Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Suling Emas Dan Naga Siluman

Seri : Bu Kek Siansu #11

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Puncak-puncak gunung menjulang tinggi di sekeliling, berlumba megah menembus awan. Sinar matahari pagi merah membakar langit di atas puncak di timur, mengusir kegelapan sisa malam dan menyalakan segala se­suatu di permukaan bumi dengan cahaya­nya yang merah keemasan. Salju yang menutupi puncak-puncak tertinggi seperti puncak-puncak Yolmo Lungma (Mount Everest), Kancen Yunga, dan Kongmaa La, berkilauan dengan sinar merah matahari pagi, seolah-olah perut gunung-gunung itu penuh dengan emas murni. Daun-daun pohon yang lebat seperti baru bangkit dari tidur, nyenyak dibuai kege­lapan malam tadi, nampak segar berman­dikan embun yang membentuk mutiara­-mutiara indah di setiap ujung daun dan rumput hijau. Cahaya matahari mencip­takan jalan emas memanjang di atas air Sungai Yalu Cangpo yang mengalir te­nang, seolah-olah masih malas dan ke­dinginan.

Sukarlah menggambarkan keindahan alam di Pegunungan Himalaya ini di pagi hari itu. Pagi yang cerah dan amat in­dah. Kata-kata tidak ada artinya lagi untuk menggambarkan keindahan. Kata-kata adalah kosong, penggambaran yang mati, sedangkan kenyataan adalah hidup, seperti hidupnya setiap helai daun di antara jutaan daun yang bergerak lembut dihembus angin pagi.

Seperti biasa, dari semenjak dahulu sekali sampai sekarang ini, yang bangun pagi-pagi mendahului sang surya hanyalah burung-burung, hewan-hewan, dan manu­sia-manusia petani yang miskin! Orang kaya di kota biasanya baru akan bangun dari kamar mewahnya kalau matahari sudah naik tinggi sekali!

Pegunungan Himalaya merupakan pe­gunungan yang paling hebat di seluruh dunia ini, paling luas, dan paling banyak memiliki puncak-puncak tertinggi di dunia. Memanjang dari barat ke timur se­bagai tapal batas yang sukar diukur dan ditentukan letaknya dari Negara-negara India, Tibet, Nepal dan Bhutan. Pegunungan Himalaya memiliki banyak sekali gunung atau puncak-puncak yang amat tinggi, yang tertinggi dan di atas tujuh ribu meter adalah Puncak Dewi, Gurla Mandhayaf Gosainthan, Yolmo Lungma Kamet, Nanda Dhaula atau Giri, Chomo Lungma atau Mount Everest sebagai puncak tertinggi (8882 meter), dan Kan­cen (Kincin) Yunga. Itu adalah deretan raksasa-raksasa puncak yang amat tinggi di Pegunungan Himalaya. Dan di antara puncak-puncak dan lereng-lereng, di antara lembah-lembah yang amat curam, mengalirlah Sungai Yalu Cangpo atau yang juga dinamakan Sungai Brahmapu­tera.

Sungai Yalu Cangpo yang mengalir di daerah Tibet menciptakan tanah subur bagi para petani Tibet, sungguhpun me­reka yang bekerja di sawah ladang itu hanyalah buruh-buruh tani belaka karena semua sawah ladang telah menjadi milik para tuan tanah dan para pembesar yang berkuasa di Tibet, di samping para pendeta yang memiliki kekuasaan besar se­kali di negara ini.

Pagi itu, sebuah perahu yang ditum­pangi tiga orang didayung meluncur lam­bat-lambat menentang aliran air, mera­yap perlahan di tepi di mana arus tidak begitu kuat. Mereka bertiga memakai pakaian tebal karena hawa amatlah dinginnya. Di sebelah tebing di mana perahu itu meluncur lewat, nampak belasan orang petani Tibet sedang bekerja mencangkul tanah. Sepagi itu mereka sudah bekerja, dan dari pinggang ke atas mereka bertelanjang sehingga narnpak otot-otot tubuh yang kekar karena ter­biasa bekerja keras. Seorang di antara mereka, yang bertubuh kokoh kekar, menghentikan cangkulnya untuk melempangkan pinggang, mengurut punggung lalu menarik napas panjang.

“Sudah lelah? Heh-heh, mengapa tidak bernyanyi untuk melupakan kelelahan dan menambah semangat?” temannya menegur. Laki-laki yang bertubuh kokoh itu tersenyum, kemudian mengembangkan dada menghisap hawa udara sepenuh paru-parunya beberapa kali, dan tak lama kemudian terdengarlah suara nyanyiannya dalam bahasa Tibet. Suaranya nyaring, bergema sampai jauh ke lembah dan me­nyentuh permukaan air sungai, dan Si Penyanyi ini menengadah seolah-olah hendak mengadukan nasibnya dalam nyanyian itu kepada puncak-puncak yang menjulang tinggi menembus awan itu. Lagu yang dinyanyikannya adalah lagu tua yang amat disuka oleh para petani miskin.

“Wahai Yolmo Lungma yang tinggi!

Ahoi, Yalu Cangpo yang panjanq!

Dapatkah kalian memberi jawaban?

Kedua tangan ku kuat bekerja berat

namun tiada seperseratus yang di­ hasilkannya

menjadi bagianku untuk makan!

Aku punya hati

suaranya membeku di mulut,

telingaku disuruh tuli

mataku disuruh buta

nyawaku lebih murah daripada seekor domba!

Wahai, Yolmo Lungma

sembunyikan aku di puncakmu yang tinggi!

Ahaoi, Yalu Cangpo,

tenggelamkan aku di airmu yang dalam!”

Tiga orang yang sedang mendayung perahu itu saling pandang. Suara nyanyi­an itu terdengar jelas oleh mereka yang berada di bawah dan karena orang yang bernyanyi tidak nampak dari perahu, maka terdengar menyeramkan, apalagi karena suara itu bergema di empat penjuru, dipantulkan oleh air dan dinding batu gunung. Akan tetapi tiga orang itu tentu saja tidak merasa takut, apalagi karena mereka segera mengenal lagu itu, sebuah lagu Tibet kuno yang pernah dilarang oleh pemerintah Tibet karena lagu itu pernah membakar semangat para petani miskin sehingga hampir menimbulkan pemberontakan. Akan tetapi, biarpun sekarang tidak ada lagi rakyat miskin di Tibet yang memberontak, lagu itu masih digemari oleh para petani.

Tiga orang dalam perahu ini merupakan tokoh-tokoh besar dari Kun-lun-pai. Pegunungan Kun-lun memang terkenal sebagal satu di antara tempat-tempat yang dihuni banyak orang pandai, pertapa-pertapa gemblengan, sungguhpun yang paling terkenal tentu saja adalah perkumpulan Kun-lun-pai yang merupakan satu di antara partai-partai persilatan terbesar. Tiga orang ini adalah tosu-tosu yang bertapa di lereng Pegunungan Kun­lun-san. Mereka ini adalah tosu-tosu yang condong kepada aliran Im-yang. Yang seorang berusia enam puluh tahun berju­luk Hok Keng Cu, bertubuh jangkung kurus dengan mulut yang selalu terse­nyum. Orang ke dua juga berusia sekitar enam puluh tahun, tubuhnya gendut tapi mukanya pucat, julukannya Hok Ya Cu, masih sute dari Hok Keng Cu. Sedangkan orang ke tiga masih lebih muda, usianya empat puluh lima tahun, wajahnya tam­pan dan tubuhnya tinggi tegap, pakaian­nya sederhana dan di punggungnya ter­gantung sepasang pedang. Dia pun se­orang tosu dari aliran lain, akan tetapi merupakan sahabat baik dari Hok Keng Cu dan Hok Ya Cu. Orang ke tiga ini bernama Ciok Kam, dan di dunia kang-ouw dia terkenal dengan julukan Hui-­siang-kiam (Sepasang Pedang Terbang). Dari julukannya saja orang dapat men­duga bahwa Hui-siang-kiam Ciok Kam ini tentu mahir ilmu pedang pasangan dan memiliki ginkang yang hebat. Dan me­mang demikianlah adanya.

Apakah yang menarik tiga orang per­tapa Kun-lun-san ini untuk melakukan perjalanan sesukar dan sejauh itu, sampai di Pegunungan Himalaya lewat Sungai Yalu Cangpo? Bukan hanya mereka ber­tiga saja yang pada waktu itu nampak berkeliaran di daerah Pegunungan Hima­laya. Sudah hampir sebulan lamanya, daerah Pegunungan Himalaya yang ja­rang dikunjungi orang itu ramai dengan datangnya banyak sekali orang-orang kang-ouw kenamaan, seolah-olah ada pesta besar di pegunungan itu yang me­narik para tokoh kang-ouw di seluruh Tiongkok. Sesungguhnya bukan pesta yang menarik , para tokoh kang-ouw seperti besi semberani yang kuat menarik jarum-jarum halus itu, melakukan suatu berita yang datangnya dari kota raja tentang lenyapnya sebuah pedang pusaka yang disimpan di dalam kamar pusaka istana kerajaan!

Kurang lebih dua bulan yang lalu, terjadilah geger di kota raja karena pe­dang pusaka kerajaan, satu di antara pu­saka-pusaka yang paling diagungkan te­lah lenyap tanpa bekas dari dalam gu­dang pusaka yang terjaga ketat oleh pasukan pengawal! Tidak terdengar suara sedikit pun, dan tidak kelihatan ada ma­ling masuk, akan tetapi ketika seperti biasa seorang pengawal yang bertugas mengurus pusaka-pusaka itu memasuki gudang untuk memeriksa, pedang pusaka yang bernama Koai-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) itu telah hilang dari tempatnya!

Tentu saja gegerlah kota raja. Pedang ini dianggap sebagai pusaka pelindung keagungan keluarga Kaisar! Maka dikerahkanlah pasukan di bawah pimpinan orang-orang pandai untuk mencari jejak pedang pusaka itu. Dan berita ini tentu saja segera tersiar keluar dan gegerlah dunia persilatan! Koai-liong-pokiam me­rupakan pedang pusaka yang dianggap memiliki wibawa melindungi keamanan atau keagungan keluarga Kaisar, akan tetapi di kalangan persilatan, di dunia kang-ouw, pedang itu dianggap sebagai pedang ajaib yang amat ampuh, yang dirindukan oleh seluruh tokoh persilatan karena pernah ada desas-desus bahwa siapa yang memiliki pedang itu, akan sukarlah ditandingi, sukar dikalahkan karena pedang itu ampuh bukan kepalang!

Maka, bukan hanya pasukan kerajaan saja yang sibuk melakukan penyelidikan untuk mencari pencurinya dan mengem­balikan pedang Koai-liong-pokiam ke Is­tana, akan tetapi tokoh-tokoh kang-ouw mulai sibuk untuk mencari pedang itu. Tentu saja hanya sebagian di antara me­reka yang berusaha mencari pedang un­tuk dikembalikan kepada Kaisar agar memperoleh hadiah, sedangkan sebagian besar pula ingin memperoleh pedang itu untuk dimilikinya sendiri!

Kemudian, sebulan yang lalu, tersiar berita yang mengejutkan dan menggeger­kan lagi bahwa pedang pusaka itu dilarikan oleh pencurinya ke daerah Himalaya! Inilah yang menarik semua tokoh kang-ouw berbondong-bondong pergi mengun­jungi daerah Pegunungan Himalaya untuk mengadu nasib memperebutkan pedang pusaka itu. Setidaknya, mereka akan memperoleh tambahan pengalaman dan daerah Himalaya memang merupakan tempat suci yang telah memiliki daya tarik besar bagi dunia persilatan!

Akan tetapi, dunia persilatan selalu terbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari partai-partai persi­latan yang bersih dan para pendekar yang menjadi pendukung kebenaran dan keadilan, penentang kejahatan. Adapun kelompok ke dua terdiri dari partai-par­tai gelap dan para penjahat yang berkepandaian tinggi. Atau istilahnya, golongan putih dan golongan hitam, atau kaum bersih dan kaum sesat! Dan ketika ter­siar berita tentang Koai-liong-pokiam, bukan hanya golongan putih yang geger, melainkan juga golongan hitam. Oleh karena itu, yang kini membanjiri daerah Himalaya bukan saja golongan putih bah­kan lebih banyak pula golongan hitam atau kaum sesat! Inilah yang menyebab­kan daerah Himalaya tiba-tiba menjadi daerah yang gawat dan berbahaya sekali. Semenjak kaum sesat membanjiri daerah ini, sudah banyak terjadi pembunuhan­pembunuhan dan penghadangan-penghadangan mereka yang lewat di daerah itu, baik para pedagang mau pun para pem­buru dan lain-lain. Daerah itu menjadi daerah rawan, bahkan kabarnya siapa saja yang berani lewat tentu akan diintai malaekat maut! Dengan adanya berita ini, hanya tokoh-tokoh besar yang berke­pandaian tinggi saja yang berani melan­jutkan perjalanan seorang diri, sedangkan mereka yang lebih kecil nyalinya lalu mencari kawan dan hanya dengan berkelompok mereka berani melanjutkan perja­lanan mereka.

Tiga orang tosu dari Kun-lun-san inipun seperti yang lain-lain, tertarik oleh berita bahwa pedang pusaka Koai-liong­-pokiam itu dilarikan oleh pencurinya ke daerah Himalaya, maka merekapun da­tang berkunjung dan melalui jalan air Sungai Yalu Cangpo. Perjalanan melalui air ini tidak begitu melelahkan, akan tetapi bahayanya tidak kalah besarnya. Apa lagi karena perjalanan itu menen­tang arus sungai! Namun, dengan bertiga mereka merasa cukup kuat untuk melan­jutkan perjalanan dan pada hari itu me­reka pagi-pagi sekali telah tiba dibawah tebing yang curam dan mendengar nyanyian petani Tibet dari atas tebing.

Mendengar nyanyian itu, Hok Keng Cu dan Hok Ya Cu hanya tersenyum. Mereka berdua sudah tidak asing dengan daerah Tibet karena sudah sering mereka melakukan perjalanan ke daerah ini. A­kan tetapi Hui-siang-kiam Ciok Kam baru pertama kali ini melakukan perja­lanan ke daerah pegunungan Himalaya. Bahkan dia sampai berada di situ pura karena terbawa oleh dua orang sahabat­nya. Maka, tidak seperti kedua orang kawannya itu, baru sekali ini dia mende­ngar nyanyian yang nadanya penuh pena­saran itu. Dia menarik napas panjang.

“Siancai....!” kata tosu muda ini.” A­gaknya di ujung dunia yang manapun, kita selalu akan bertemu dengan manusia-manusia yang berkeluh kesah dan merasa hidupnya sengsara!” Dia dapat menangkap keluh-kesah dalam suara nya­nyian itu.

“Ciok-toyu, itu adalah lagu rakyat petani Tibet yang kuno,” kata Hok Ya Cu menerangkan, lalu menterjemahkan lagu itu dalam bahasa Han.

“Lagu itu penuh keluhan, membuat aku penasaran saja “ Ciok Kam berka­ta seorang diri, lalu dia bangkit seorang diri di atas perahu, mengembangkan da­danya dan terdengarlah tosu muda ini bernyanyi, suaranya nyaring melengking karena didorong oleh tenaga khi-kang yang cukup kuat.

“Yolmo Lungma tinggi agung karena hening

Yalu Cangpo panjang tenang karena hening

manusia dengan segala kesibukannya

membuat gaduh, kacau dan sengsara,

sekali tidak puas selamanya tidak akan puas!

Aih.... sebelum hayat meninggalkan badan

tak mungkinkah mengenal kecukupan?”

“Ha-ha, Ciok-toyu, siapakah yang kau cela itu? Si penyanyi di atas itukah?” Hok Keng Cu bertanya.

Ciok Kam tosu menarik napas panjang “Sebagian juga mencela kita sendiri, To-heng. Bukankah karena ingin mencari kepuasan maka kita berada di sini?”

Sebelum dua orang temannya itu ada yang menjawab, tiba-tiba dari atas ter­dengar teriakan yang bergema ke bawah, “Ahooii.... kalian yang berada dibawah!”

Hui-siang-kiam Ciok Kam melihat ke atas dan ternyata yang berteriak itu adalah seorang laki-laki yang kelihatan kecil dari tempat curam itu, hanya nampak kepala dan kedua pundak saja, akan tetapi dia tidak mengerti apa yang dika­takannya karena orang itu bicara dalam bahasa Tibet.

Hok Keng Cu yang mengerti bahasa itu, segera berteriak dengan mengerahkan khi-kang sehingga suaranya bergema sampai ke atas tebing,

“Sobat, kau mau apakah?”

Orang di atas itu adalah si penyanyi tadi, dan kini dia berkata lagi, “Hati-hati, jangan lanjutkan perjalanan! Di lereng Kongmaa La ada Yeti sedang mengamuk! Sudah banyak orang dibunuh­nya!

Hok Keng Cu dan Hok Ya Cu saling pandang dengan muka kelihatan terkejut, kemudian Hok Keng Cu menjawab nya­ring, “Terima kasih atas pemberitahuan­mu....” Lalu mereka melanjutkan pen­dayungan perahu mereka, diikuti pan­dang mata petani yang masih menjenguk ke bawah dari tebing yang amat tinggi itu.

“Ah, apakah yang dikatakan orang itu tadi?” tanya Ciok-tosu kepada dua orang sahabatnya. Hok Ya Cu lalu menjelaskan dan sepasang alis yang tebal dari tosu muda itu berkerut.

“Apa dan siapakah yang dinamakan Yeti itu?” tanyanya, “Kalau dia seorang sejahat itu, sebaiknya kita bertiga mem­basminya!”

“Ciok-toyu, engkau tidak tahu! Dia bukan manusia, kalau manusia, tentu dapat kita hadapi dengan kaki tangan kita!” kata Hok Keng Cu.

“Hemm, kalau begitu dia iblis?” tanya Ciok-tosu dengan heran.

“Bukan juga, kalau iblis dapat kita hadapi dengan kekuatan batin kita! Dia bukan manusia bukan iblis, melainkan seekor mahluk setengah manusia setengah binatang yang amat buas, dan memiliki kekuatan yang mujijat, tidak masuk akal!”

“Ehhh.... ?” Tosu muda itu makin kaget.

“Pinto (aku) rasa lebih baik kalau kita mengambil tempat pendaratan lain dan menjauhi, Kongmaa La itu, sungguh­pun sebenarnya paling baik kalau me­ngambil jalan dari gunung itu di mana terdapat jalan buatan manusia yang mu­dah dilalui,” kata pula Hok Keng Cu.

“To-heng, pernahkah engkau berhadap­an dengan Yeti itu?” tanya Ciok Kam.

Yang ditanya menggeleng kepala. “Pin­to dan juga Sute belum pernah bertemu sendiri dengan Yeti.”

“Kalau begitu, mengapa Ji-wi To-heng sudah begitu takut menghadapinya? Baik dia itu manusia, atau iblis atau bina­tang, kalau membunuh banyak orang, adalah kewajiban kita untuk membasmi­nya!”

“Kami tidak takut, To-yu, hanya kami rasa lebih baik kalau kita tidak mencari penyakit. Kami hanya pernah mendengar saja tentang Yeti itu, yang kabarnya tidak terlawan oleh orang yang betapa kuat dan pandaipun. Kabarnya, tenaganya melebihi seekor gajah India, kulitnya kebal terhadap segala macam senjata tajam dan kecepatan ,gerakannya tak masuk akal, dia mampu mendaki gunung es dengan kecepatan seperti terbang saja! Siapa orangnya mampu menandingi mahluk seperti itu?”

Hui-siang-kiam Ciok Kam mengerut­kan alisnya, akan tetapi sepasang mata­nya mengeluarkan sinar berapi karena hatinya tertarik sekali. “Seperti apa ma­camnya, To-heng? Aku ingin sekali melihatnya,”

“Kami belum pernah melihatnya, ha­nya pendapat orang bermacam-macam. Ada yang bilang seperti biruang, ada yang bilang seperti monyet besar, ada yang bilang lagi seperti manusia. Yang jelas, dia berjalan dengan kedua kaki seperti manusia!”

Hening sejenak. Tiba-tiba Hui-siang-kiam Ciok Kam berseru, “Ahh, jangan-jangan mayat-mayat yang kita lihat te­rapung di atas air sungai itu adalah korban dia!”

Dua orang sahabatnya termenung dan mengangguk-angguk. Mereka pun sedang memikirkan hal itu dan membayangkan betapa sehari yang lalu mereka melihat tiga mayat manusia berturut-turut tera­pung di atas sungai dengan tubuh yang rusak-rusak dan luka-luka.

“Tadinya pinto mengira bahwa mereka itu korban kaum sesat yang kabarnya mengganas di daerah Himalaya, akan tetapi setelah pinto mendengar tentang Yeti yang mengamuk, siapa tahu duga­anmu benar To-yu.”

“Tapi.... di tubuh mayat-mayat itu terdapat tanda seperti mereka terkena sabetan pedang atau senjata tajam.” Ciok-tosu membantah.

“Kuku tangan Yeti kabarnya tidak kalah tajam dan kuatnya dari pada ujung pedang manapun juga!” kini Hok Ya Cu ikut bicara.

Mereka mendayung terus dan tidak berkata-kata lagi, tenggelam dalam pi­kiran masing-masing dan cerita tentang adanya Yeti mengamuk itu berkesan mendalam sekali dalam hati mereka. Matahari telah menampakkan diri dan sinarnya menyusup di antara daun-daun pohon yang tumbuh di kanan kiri tebing yang kini tidak begitu tinggi lagi, hanya setinggi belasan meter saja. Mulai nam­pak keindahan pemandangan, di kanan kiri sungai. Pohon-pohon raksasa dan semak-semak belukar yang sukar sekali ditem­bus manusia, dan jauh di kanan kiri menjulang puncak-puncak tinggi yang tertu­tup awan dan salju. Hawa masih dingin sungguhpun sinar matahari cukup cerah di pagi itu.

Disebelah kiri nampaklah sebuah gu­nung yang kuning kehijauan, berbeda dengan gunung lain di kanan kiri yang hijau biru kehitaman. Warna terang gu­nung disebelah kiri itu menyenangkan dan menimbulkan harapan, tidak menyeram­kan seperti warna gunung-gunung lain yang membayangkan keliaran.

“Gunung apakah itu?” Ciok-tosu yang merasa tertarik menuding dan bertanya.

“Itulah Kongmaa La.... “ jawab Hok Keng Cu dengan suara lirih, seolah-olah dia merasa jerih, Ciok-tosu menengok dan melihat betapa dua orang sahabatnya itu memandang ke arah gunung itu pula dengan wajah agak pucat. Timbul rasa penasaran dalam hatinya. Dia tahu bahwa dua orang sahabatnya itu bukan orang lemah, meainkan sudah terkenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi. Mengapa kini memperlihatkan sikap demikian takut dan pengecut? Sikap dua orang temannya itu tiba-tiba saja membangkitkan rasa penasaran dan semangat di dalam dadanya.

“Pinto mau mendarat di sana!” tiba-tiba dia berkata

“Ehh....?” Hok Keng Cu berseru.

“Berbahaya sekali, Ciok-Toyu!” seru Hok Ya Cu menyambung.

“Kalau Ji-wi To-heng tidak berani, biarlah pinto sendiri saja melanjutkan perjalanan lewat Kongmaa La!” Melihat dua orang sahabatnya itu saling pandang dan meragu untuk menjawabnya, Ciok-tosu menyambung. “Bukankah Ji-wi mengajak pinto untuk menjelajahi Himalaya dengan maksud mencari pencuri pedang pusaka Koai-liong-pokiam? Kalau kita takut bahaya, mana mungkin akan berhasil? Siapa tahu, berita tentang Yeti itu akan membawa kita kepada jejak si pencuri pedang pusaka!”

Mendengar ini, dua orang tosu itu terkejut saling pandang, mengangguk-angguk, kemudian Hok Keng Cu berkata. “Baiklah, kita mendarat dan melalui Kongmaa La!”

Hok Ya Cu hanya mengangguk saja, menyetujui ucapan suhengnya. Mereka lalu mendayung perahu ke tepi, mencari tempat pendaratan yang baik di kaki Gunung Kongmaa La itu. Di bagian ini memang tidaklah seliar bagian lain dan akhirnya mereka dapat mendarat, mena­rik perahu ke atas, lalu menyembunyikan perahu itu di dalam semak-semak.

***

“Ini namanya Lembah Arun!” kata Hok Keng Cu yang lebih berpengalaman dengan keadaan daerah Himalaya itu. Hok Ya Cu dan Ciok Kam memandang ke kanan kiri. Pemandangan alam di tempat itu sungguh menakjubkan sekali. Di sebelah kiri menjulang tinggi sebuah gunung yang puncaknya tertutup awan dan salju, dan di sebelah kanan, agak jauh lagi, juga menjulang tinggi puncak yang agaknya setengah tubuhnya tertutup” salju dan awan. Mereka berada di te­ngah-tengah, antara dua tiang dunia yang seperti menyangga atap langit itu. Menyaksikan kemegahan yang luar biasa ini, yang baru dilihatnya selama hidupnya, Ciok Kam menahan napas.

“Betapa hebatnya kekuasaan To!” dia menggumam, takjub dan terpesona oleh keindahan itu.

Memang indah! Hanya satu kata itu saja yang tepat. Indah! Tidak ada apa-apa lagi! Siapa gerangan mampu meng­gambarkan keindahan, keagungan, kebe­saran yang demikian hebat? Yang dapat menggambarkan secara tepat hanyalah satu keadaan, yaitu HENING! Di dalam keheningan sajalah, di waktu hati dan pikiran tidak sibuk menilai dan mem­banding-banding dari sudut selera dan keuntungan diri pribadi, maka segala keindahan itu pun nampaklah jelas. Akan tetapi, sekali pikiran masuk dan menilai, membandingkan keindahan itu, berusaha mengabdikannya dalam ingatan, maka keindahan itu pun lenyaplah, hanya men­jadi gambaran yang menimbulkan kese­nangan belaka yang akhirnya akan mem­bosankan!

Dalam keadaan hening, terasa sekali keagungan Sang Maha Pencipta dan cip­taan-Nya yang terbentang luas di alam maya pada, terasa sekali kemujijatan yang terkandung di dalam segala sesuatu, dari tumbuhnya setiap helai bulu dan rambut di tubuh kita sendiri seperti tumbuhnya pohon-pohon di hutan, dari setiap urat syaraf di tubuh kita sendiri seperti sumber-sumber air di bawah per­mukaan bumi sampai kepada kehebatan segala yang nampak di angkasa, awan, bulan, matahari, bintang-bintang. Dalam keheningan memandang semua itu, tera­salah bahwa kita adalah bagian dari se­mua itu, tidak terpisah, sudah berada di dalam suatu ketertiban yang selaras dan ajaib. Namun sayang, kita terlalu sibuk dengan pikiran yang setiap saat menge­jar-ngejar kesenangan yang sesungguhnya hampa itu, kesenangan sebagai pemuasan nafsu belaka. Kita tidak lagi menghargai semua keajaiban itu, kita hanya mampu menghargai bayangan-bayangan khayal, hanya tertarik akan nama-nama dan se­butan-sebutan belaka. Kita boleh cen­derung untuk menggambarkan, menanam­kan dan menyebut semua itu menjadi pengetahuan teoretis, menjadi bahan perdebatan dan percekcokan, memperta­hankan pendapat masing-masing tentang yang maha besar itu! Betapa lucu namun menyedihkan. Kita lebih tertarik akan asapnya sehingga hanya mendapatkan abunya belaka tanpa menghiraukan apinya sehingga klta kehilangan cahaya dan apinya itu!

Tiga orang tosu itu sejenak terpesona oleh keindahan yang membentang luas di depan mata mereka itu sehingga mereka kehilangan suara untuk bicara lagi. Mereka lalu duduk di atas rumput dan rasa lapar membuat mereka membuka bekal roti kering mereka, lalu makan roti ke­ring yang dicelup air jernih yang mereka dapat ambil sebanyaknya di tempat itu karena dari dinding batu-batu mengalir sumber-sumber air kecil yang amat jer­nih.

Lembah Arun berada di dalam wila­yah Kerajaan Nepal Timur. Lembah Arun adalah lembah sungai yang paling curam di dalam dunia ini, suatu tempat yang indah namun terasing dari manusia dan keadaannya sungguh luar biasa, penuh dengan suasana keramat dan penuh raha­sia, penuh dengan hutan-hutan indah namun liar tak pernah tersentuh tangan dan terinjak kaki manusia. Letaknya lembah ini di antara dua puncak yang tertinggi, yaitu Puncak Yolmo Lungma yang merupakan puncak tertinggi di du­nia dan Puncak Kancen Yunga yang me­rupakan puncak nomor tiga tertinggi di dunia.

Di depan, adalah daerah gunung dan puncak Kongmaa La, yang merupakan daerah yang nampak berbeda dari jauh dengan gunung-gunung lain di sekeliling daerah Pegunungan Himalaya itu. Sambil makan dan minum secara sederhana itu, hanya roti kering dan air jernih, mereka bercakap-cakap. Akan tetapi aneh sekali, menghadapi kebesaran alam yang sedemi­kian agungnya, mereka merasa betapa suara mereka terdengar hambar dan di­telan keheningan yang demikian luas. Akhirnya mereka menghentikan percakap­an sampai perut mereka terasa kenyang.

“Mari kita lanjutkan perjalanan. Ma­tahari sudah naik tinggi dan kalau tidak ada halangan, sebelum senja kita dapat mencapai pondok batu di lereng depan itu, pondok kosong yang dulu menjadi tempat pertapaan seorang pertapa tua yang telah lama meninggal dunia. Hanya pondok itulah satu-satunya tempat yang baik untuk kita dapat melewatkan malam di daerah ini!” kata Hok Keng Cu yang sudah berpengalaman di tempat itu.

Mereka bangkit dan mulai berjalan menuju ke barat. Melihat suasana yang amat sunyi, mau tidak mau muncul kem­bali bayangan mahluk yang dinamakan Yeti itu di benak Ciok-tosu, maka dia lalu bertanya kepada Hok Keng Cu.

“To-heng, sebetulnya, apakah artinya Yeti itu?”

Hok Keng Cu mengerutkan alis me­mandang ke kanan kiri, seolah-olah me­rasa takut membicarakan mahluk itu. Siapa tahu kalau dibicarakan mahluk itu akan muncul di depan mereka! Akan te­tapi karena dia tidak mau dianggap pe­nakut, dengan lirih dia menjawab, “Yeti itu asalnya dari bahasa Tibet Yeh-teh. Yeh artinya daerah berbatu dan Teh artinya mahluk. Jadi Yeti dinamakan mahluk dari daerah berbatu oleh bangsa Tibet.”

Ciok Kam mengangguk-angguk, kagum akan pengetahuan kawannya itu. Akan tetapi dia masih penasaran dan bertanya lagi. “Mengapa dinamakan mahluk, apa­kah belum ada ketentuan dia itu sebe­narnya apakah? Binatang, manusia, atau­kah setan?”

“Sstt.... Toyu, hati-hatilah kalau bica­ra....!” Hok Ya Cu berbisik, mukanya berubah pucat.

“Tidak mengapa,” Hok Keng Cu ber­kata. “Ciok-toyu bukan bermaksud meng­hina melainkan karena memang ingin, sekali tahu. Dengarlah, Ciok-toyu, sebe­tulnya hampir tidak ada manusia yang dapat menceritakan dengan jelas bagai­mana sesungguhnya Yeti itu. Yang masih hidup dan dapat bercerita, hanya melihat­ Yeti dari kejauhan saja, sedangkan yang pernah berhadapan muka selalu tentu.... tewas! Dan dari keterangan mereka yang melihatnya dari jauh ada yang mengatakan bahwa mahluk itu menyerupai seekor burung besar, dan ada pula yang menga­takan menyerupai seekor monyet besar. Akan tetapi semua mengatakan bahwa dia berjalan di atas kedua kaki seperti manusia dan bahwa tubuhnya tinggi besar menakutkan.”

Penggambaran tidak jelas tentang Yeti itu yang diucapkan dengan suara agak gemetar oleh Hok Keng Cu me­nimbulkan suasana menyeramkan sehingga mereka kini tidak banyak bicara lagi. Akan tetapi, suasana menyeramkan itu terhapus oleh keindahan yang makin mempesona ketika mereka mendaki ma­kin tinggi. Memang luar biasa sekali kalau berdiri di suatu tebing dengan awan-awan bergerak di depan kaki. Se­olah-olah dengan mengulurkan tangan saja orang akan dapat menangkap domba-domba putih berarak di angkasa itu! Hawa juga menjadi semakin dingin kare­na mereka makin mendekati puncak yang tertutup salju.

Mereka kini tiba di daerah yang ber­batu. Batu-batu gunung yang hitam licin dan tajam sehingga biarpun tiga orang itu merupakan tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi, mereka harus me­langkah dengan hati-hati kalau mereka tidak ingin sepatu mereka pecah-pecah oleh tusukan batu-batu runcing. Matahari telah naik semakin tinggi, mulai agak condong ke barat, membuat bayang­bayang pendek di belakang mereka.

Mereka berjalan beriring-iringan, karena masing-masing harus memperhatikan ba­tu-batu di bawah kaki mereka. Mereka berloncatan, berjingkat-jingkat, hati-hati sekali dan mengerahkan gin-kang sehingga tubuh mereka dapat bergerak ringan se­kali, Hok Keng Cu sebagai penunjuk jalan berada paling depan, lalu disusul sutenya, baru kemudian Ciok-tosu berada paling belakang. Akan tetapi tosu termuda ini tidak pernah tertinggal, karena dalam hal gin-kang, dia lebih unggul daripada dua orang sahabatnya sehingga melalui jalan berbatu-batu itu tidak berapa sukar baginya. Tiba-tiba terdengar Hok Keng Cu berseru tertahan dan tosu tua ini berjongkok di atas batu besar, matanya menatap ke bawah, ke balik batu besar itu.

Hok Ya Cu dan Ciok Kam yang sudah mencium bau busuk, cepat menghampiri dan ketika dia memandang, ternyata di balik batu besar itu terdapat mayat dua orang pria yang sudah mulai membusuk! Melihat pakaian mereka, dua mayat itu tentulah dia orang ahli silat, dengan pakaian ringkas seperti pakaian para piauwsu atau kauwsu (pengawal barang atau guru silat), usia mereka sukar di­taksir karena muka itu sudah membeng­kak dan menghitam. Tak jauh dari situ nampak sebatang golok dan sebatang pe­dang menggeletak di antara batu-batu. Jelas nampak bahwa leher kedua orang itu terobek dan luka yang menganga itu sungguh mengerikan untuk dipandang.

“Lihat ini....!” Ciok-tosu berseru. Dua orang tosu tua itu menengok dan melihat betapa sahabat mereka itu telah meng­ambil pedang dan golok, mengacungkan kedua benda tajam itu. Mereka mendekat dan melihat bahwa dua buah senjata itu telah rompal dan rusak, seperti telah dipergunakan untuk membacok baja saja. Ciok-tosu mencoba mata pedang dan golok dengan jarinya dan mendapat ke­nyataan bahwa dua buah senjata itu ter­buat dari logam yang cukup baik. Dia melempar kedua benda itu keras-keras ke atas batu. Terdengar suara nyaring yang mengejutkan dan nampak bunga api ber­pijar, tanda bahwa dua senjata itu me­mang cukup kuat. Namun dua buah sen­jata itu rompal dan rusak!

Mereka bertiga saling pandang dan sinar mata mereka masing-masing jelas mengucapkan suatu kata yang sama. Yeti! “Mari kita melanjutkan perjalanan!” akhirnya Hok Keng Cu berkata lirih. Suaranya jelas terdengar gemetar dan tidak lancar.

“Tapi.... tapi kita harus mengurus mayat-mayat ini....“ kata Ciok-tosu sam­bil memandang kepada dua mayat itu.

“Ah, kita tidak ada waktu, To-yun jangan sampai kita terlambat tiba di pondok batu itu. Pula, tempat ini penuh batu, mana mungkin mengubur mayat? Marilah!” Hok Keng Cu mendesak dan Ciok-tosu akhirnya menurut juga karena memang sukarlah mengubur mayat di tempat seperti itu. Hatinya sedih melihat mayat manusia berserakan seperti itu tak­terurus.

Bayang-bayang di belakang tubuh me­reka makin memanjang ketika matahari makin condong ke barat, di depan mere­ka. Mereka kini tiba di daerah padang rumput dan wajah Hok Keng Cu nampak lega. “Kita sudah hampir sampai, di le­reng sana itu. Mari cepat kita capai tempat itu dan berisitirahat!” Biarpun mulutnya tidak menyebut tentang Yeti namun dua orang teman seperjalanannya maklum bahwa tosu ini merasa lapang dadanya karena tidak ada mahluk menge­rikan itu mengganggu mereka.

Akan tetapi, ketika mereka maju ku­rang lebih dua ratus meter lagi, tiba-tiba Hok Keng Cu yang berjalan di depan, meloncat ke belakang dan berseru, “Sian­cai....!”

Dua orang temannya cepat mengham­piri dan mereka terbelalak. Tak jauh dari situ, tertutup rumput yang agak tinggi nampak berserakan beberapa tubuh manu­sia! Dan mereka semua telah menjadi mayat dan melihat darah yang masih berceceran di mana-mana mudah diketa­hui bahwa peristiwa pembunuhan atas diri mereka itu belum lama terjadi, mungkin baru beberapa jam yang lalu! Mereka mencari-cari dan menemukan tujuh buah mayat manusia di sekitar tempat itu. Semuanya terluka di leher dan perut atau dada, luka lebar seperti dibacok golok atau pedang yang tajam, dan hampir semua mayat itu matanya terbelalak lebar, seolah-olah mereka itu dilanda ketakutan hebat sebelum mereka tewas.

Ciok Kam sudah mencabut pedang pasangan dari punggung dan kini dengan kedua tangan memegang pedang dia ber­diri memandang ke sekeliling. Bermacam perasaan mengaduk hati tosu muda ini. Ada perasaan gentar, akan tetapi juga ada perasaan penasaran dan marah. Dia maklum bahwa yang membuat orang-orang ini adalah sesuatu yang amat kuat, karena ketujuh orang ini pun semua me­rupakan orang-orang yang ahli dalam ilmu silat, melihat dari pakaian mereka dan juga dari senjata-senjata yang berse­rakan di tempat itu. Dan ini tidaklah mengherankan karena siapa lagi kalau bukan ahli-ahli silat yang berani datang ke daerah ini? Dan siapa lagi kalau bu­kan orang-orang kang-ouw yang datang ke situ dengan maksud yang sama, yaitu mencari pedang pusaka Koai-liong-po­kiam? Dan ternyata tujuh orang kang­ouw ini mati begitu saja secara mengeri­kan sekali di tempat ini. Benarkah kalau begitu peringatan petani tadi bahwa tempat ini berbahaya, bahwa Yeti sedang mengamuk. Akan tetapi benarkah Yeti yang mengamuk?

“Hei, manusia atau mahluk jahat, keluarlah dan tandingi sepasang pedang­ku!” teriaknya.

Dua orang sahabatnya terkejut sekali. “Ciok-toyu, jangan begitu! Mari kita cepat pergi ke pondok itu sebelum ter­lambat!” seru Hok Keng Cu.

“To-heng, ada kejahatan macam ini dan kita diam saja malah melarikan diri? Tidak! Kurasa bukan Yeti yang melaku­kan ini, melainkan kaum sesat yang ka­barnya banyak pula berkeliaran di daerah ini!” kata Ciok Kam yang sudah marah sekali melihat begitu banyak orang dibu­nuh.

“Ciok-toyu, engkau ikut bersama pin­to, harap engkau menurut dan tidak usah menyusahkan pinto. Kalau kau tidak mau, biarlah pinto berdua pergi sendiri ke pondok!” kata Hok Keng Cu dan nada suaranya terdengar marah.

Ciok Kam sadar dan maklum bahwa dia memang telah terburu nafsu. Dua orang tosu sahabatnya itu adalah orang-orang pandai kalau sampai mereka nam­pak begitu ketakutan tentu ada sebabnya. Dia sendiri merasa kini bahwa sikapnya tadi terlalu lancang dan nekat, menurutkan kemarahan hati saja.

“Baiklah, To-heng, mari kita pergi!” katanya akan tetapi ketika dia mengikuti dua orang tosu itu, dia tetap memegang kedua pedangnya dalam keadaan siap tempur.

Akhirnya, dengan tergesa-gesa, Hok Keng Cu membawa dua orang teman seperjalanannya itu ke dinding gunung yang amat tinggi dan di situ terdapat sebuah pondok batu yang sebenarnya lebih mirip sebuah guha yang tertutup oleh sebuah batu besar. “Bantu pinto menggeser pintu batu ini!” katanya dan mereka bertiga mengerahkan tenaga mendorong batu bundar besar yang menu­tupi lubang guha. Hanya dengan penge­rahan tenaga sekuatnya dari mereka ber­tiga, akhirnya perlahan-lahan batu bundar itu dapat digeser minggir dan terbukalah sebuah lubang guha yang cukup lebar. Mereka segera memasuki guha itu. Guha itu luas dan nampak burung-burung walet berseliweran di sebelah dalam.

“Batu itu dapat didorong menutup dari dalam. Kalau bahaya, kita tinggal meng­gesernya menutup lagi dan kita aman sudah.” kata Hok Keng Cu dengan nada suara lega. “Sekarang lebih dulu kita mengambil air untuk persediaan semalam ini. Juga kayu-kayu kering untuk mem­buat api unggun. Besok pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan.”

Diam-diam Ciok-tosu tidak setuju dengan sikap yang amat takut-takut ini, akan tetapi dia tidak banyak bicara, lalu membantu dua orang temannya itu men­cari air jernih di luar pondok batu guha, menampung air itu di gentong batu yang terdapat di dalam guha itu, juga me­ngumpulkan kayu kering secukupnya. Kemudian mereka bertiga duduk di dalam pondok, mengaso sambil menanti datangnya malam. Sinar matahari sore masih me­masuki guha dari pintu yang terbuka itu.

“Besok pagi kita ke manakah?” Akhir­nya Ciok Kam bertanya untuk menghi­langkan kekesalan hatinya.

“Ke Lereng Gunung Yolmo Lungma yang disebut Lereng Awan Merah. Di sa­nalah pusat pertapaan, dan di sana kira­nya kita akan dapat mencari keterangan tentang pedang pusaka itu. Tentu se­orang di antara para pertapa ada yang tahu, pinto yakin bahwa ke sana pula perginya semua orang kang-ouw yang mengunjungi daerah ini untuk mencari pedang pusaka itu.”

“Masih jauhkah dari sini?”

“Tidak jauh lagi, perjalanan tiga hari menuju ke barat. Setelah tiba di kaki Yolmo Lungma akan nampak lereng di sebelah timur, di situ nampak dinding batu gunung yang kemerahan sehingga kalau tertimpa sinar matahari, warna merah memantul ke atas membuat awan-awan di atasnya agak kemerahan. Karena itulah dinamakan Lereng Awan Merah.”

“Mengapa banyak pertapa berkumpul di sana?”

“Karena daerah itu selain amat indah dan sejuk hawanya, juga memiliki tanah subur untuk ditanami sayur-sayuran.”

Malam pun tibalah. Mereka bertiga lalu menggeser batu penutup lubang itu dari dalam dan mereka merasa aman. Api unggun telah dinyalakan dan di ba­wah penerangan api unggun ini mereka makan roti tawar dan minum air yang mereka sediakan tadi. Sesudah itu, mereka mulai merebahkan diri untuk mengaso dan tidur. Api unggun bernyala di dekat mereka, antara mereka dengan pintu guha batu. Tak lama kemudian api ung­gun itu padam akan tetapi mereka tidak mengetahuinya karena mereka telah tidur pulas saking lelahnya.

Sinar matahari pagi telah menerobos melalul celah-celah kecil di tepi pintu batu yang masih menutup lubang guha ketika Ciok Kam terbangun dari tidur­nya. Kebetulan dia tidur menghadap pin­tu dan sinar matahari yang kecil itu tepat menimpa mukanya. Dia menjadi silau, menggosok-gosok matanya dan merasa kaget karena sinar matahari kecil itu disangkanya dalam keadaan setengah sadar seperti mata seekor mahluk yang menakutkan! Akan tetapl dia segera sa­dar dan merasa geli sendiri, lalu bangkit duduk dan menggaruk-garuk mukanya di mana terdapat bintul-bintul kecil.

“Hem, di tempat seperti ini ada juga nyamuknya.” gerutunya. Tiba-tiba dia melihat betapa sinar kecil dari matahari yang dapat menyusup antara celah batu dan guha itu menjadi gelap, seperti ada sesuatu yang menghalanginya di depan pintu batu. Cepat Ciok Kam bangkit berdiri dan terbelalak memandang ke arah batu besar bundar itu. Ada orang di luar, pikirnya. Dan orang itu yang tadi lewat sehingga sejenak menggelapkan sinar itu. Kini sinarnya sudah masuk lagi dan dia memperhatikan. Pendengarannya yang terlatih baik segera dapat menang­kap suara aneh di luar batu penutup guha itu. Suara gerakan-gerakan berat dan juga suara pernapasan yang membuat dia terbelalak, karena napas itu begitu berat dan panjang, mendengus-dengus! Bukan pernapasan manusia! Agaknya ada binatang buas di luar guha. Cepat dia mehghampiri dua orang tosu tua yang masih tidur itu, mengguncang-guncang mereka dan menggugah mereka dengan bisikan-bisikan tegang. “Lekas Ji-wi To­heng, bangunlah!”

Dua orang tosu itu terbangun dan terkejut, akan tetapi sebelum mereka bertanya, Ciok-tosu menuding ke arah pintu. Kini terdengar gerakan-gerakan yang lebih keras dan dua orang tosu itu sudah meloncat berdiri dengan mata ter­belalak.

“Jangan khawatir, kita di sini aman, terlindung pintu bundar itu!” Hok Keng Cu berkata dan tangannya meraba saku­nya. Tosu ini tidak membawa senjata, akan tetapi dia mempunyai senjata yang amat ampuh, yaitu sabuk sutera putih yang dililitkan di pinggang. Dia ahli main cambuk dan sabuk ini dapat dimainkan sebagai senjata cambuk untuk menotok jalan darah lawan. Sementara itu, Hok Ya Cu juga sudah mengeluarkan pedang tipis yang biasanya disembunyikan di bawah jubah pertapaannya. Ciok-tosu sudah mencabut sepasang pedangnya dan berdiri dengan hati berdebar. Mereka bertiga menanti dengan tegang, sama sekali tidak bergerak, seperti telah men­jadi arca batu di dalam guha batu itu, mata mereka memandang ke arah batu bundar penutup guha, ke arah sinar kecil dari matahari yang menerobos masuk.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan batu bundar yang amat besar dan berat itu bergerak! Tiga orang tosu itu terke­jut dan melihat betapa celah-celah yang dimasuki sinar matahari itu makin mem­besar, Hok Keng Cu berteriak. “Cepat pertahankan pintu itu jangan sampai ter­buka!” Mereka berloncatan ke dekat pin­tu, lalu tiga pasang tangan yang me­ngandung kekuatan sin-kang yang besar itu memegang dan mendorong kembali pintu batu ke kiri. Akan tetapi, ada ke­kuatan dahsyat dari luar yang menentang dan yang mendorong pintu itu ke kanan. Terjadilah adu kekuatan yang amat he­bat, dilakukan dengan diam-diam di tem­pat yang asing dan aneh itu dalam sua­sana yang amat menyeramkan dan mene­gangkan. Terdengar suara dari luar, seperti suara singa menggereng atau hari­mau mengaum sehingga suara itu meng­getarkan bumi sampai kedalam guha. Setelah terdengar suara dahsyat ini, tenaga yang mendorong batu bundar ke kanan semakin kuat! Tiga orang tosu itu mempertahankan, namun mereka ikut terdorong ke kanan! Celah-celah makin melebar dan lubang itu hampir nampak!

“Lepaskan dan terjang keluar! Di dalam tidak leluasa!” Hok Keng Cu tiba-tiba berseru setelah mendapat kenyataan bahwa tenaga mereka bertiga masih tidak mampu mempertahankan batu besar yang didorong terbuka dari luar itu.

Ketika tiga orang tosu itu menarik kembali tangan mereka, batu besar itu dengan cepat terdorong ke kanan dan terbukalah guha itu. Mereka agak silau oleh masuknya sinar matahari yang ce­rah, akan tetapi mereka sudah berloncat­an keluar guha dan telah mempersiapkan senjata di tangan. Ketika tiba di luar dan membalik, mereka bertiga terbelalak dan wajah mereka pucat ketika mereka melihat mahluk yang berdiri di depan mereka.

Mahluk itu tingginya dua meter lebih, tubuhnya berbulu pendek kasar, bulu yang warnanya merah coklat kehitaman, de­ngan totol-totol putih di bagian dada. Bulu rambut tubuhnya yang kasar itu agak panjang di bagian kedua pundaknya, menutupi pundak seperti baju bulu. Mu­kanya agak rata, bersih tidak berambut, seperti muka monyet besar yang lebih mirip manusia daripada monyet. Mulutnya lebar, ketika itu menyeringai marah memperlihatkan gigi yang besar-besar seperti gigi manusia bentuknya, tidak ber­sihung. Kepalanya di bagian atas merun­cing seperti bentuk kerucut. Kedua le­ngannya yang besar itu panjang sampai ke lutut, kedua pundaknya menurun se­perti biasa terdapat pada pundak monyet besar. Akan tetapi mahluk ini tidak ber­ekor dan lebih mendekati bentuk tubuh manusia daripada monyet atau biruang. Seluruh perawakannya membayangkan keadaan yang kokoh kuat seperti batu gunung! Akan tetapi yang menarik per­hatian tiga orang tosu itu adalah seba­tang pedang yang menancap di paha kanan mahluk ini. Sebatang pedang pen­dek yang mengkilap menusuk dari depan dan menembus paha kanan itu sampai ke belakang. Tidak nampak darah dekat tempat pedang itu menancap, agaknya sudah agak lama pedang itu menancap paha mahluk aneh ini.

“Yetiiii!” Akhirnya terdengar Hok Keng Cu berseru tertahan.

Mahluk ini melangkah maju sambil mengeluarkan suara gerengan aneh. Tiba-tiba Hok Ya Cu mengeluarkan bentakan nyaring dan pedang tipisnya menyambar ke arah leher mahluk itu.

“Aurgghh....!” Yeti itu mendengus dari, tenggorokannya dan dengan gerakan lam­ban namun mengeluarkan angin dahsyat, tangannya bergerak ke depan. Pedang di tangan Hok Ya Cu menabas ke arah lengan yang diangkat itu.

“Trakkkk!” Pedang itu terpental dan tangan Hok Ya Cu yang memegang pe­dang itu tergetar, membuat orangnya terhuyung ke belakang.

“Dia kebal!” kata Hok Ya Cu yang sudah menerjang pula, menggerakkan sabuk sutera yang sudah dilolosnya tali dari pinggangnya. Nampak sinar putih berkelebat panjang seperti seekor ular, dibarengi suara bercuitan amat kuatnya, menotok ke arah kedua mata mahluk itu secara bertubi-tubi!

Yeti itu agaknya tidak mau atau tidak dapat mengelak, hanya memejam­kan kedua mata ketika ujung sabuk putih itu mematuk-matuk, dan seperti juga. pedang tadi, hanya terdengar suara “tak-tuk-tak-tuk!” seolah-olah ujung sabuk yang sudah menjadi kaku karena digerak­kan dengan sin-kang itu bertemu dan menotok benda-benda keras melebihi baja! Yeti menjadi marah, kedua lengan­nya yang panjang itu menyambar ke depan dan Hok Keng Cu terpaksa mena­rik sabuknya karena dia maklum bahwa sekali sabuknya kena ditangkap, akan sukarlah menyelamatkan senjatanya itu.

Sementara itu, Hok Ya Cu sudah menggerakkan pedangnya lagi, akan teta­pi ke mana pun pedangnya menyerang, menusuk atau membacok, selalu terpental kembali sehingga tosu ini menjadi amat jerih. Ada pun Ciok Kam setelah melihat keadaan dua orang sahabatnya itu, segera mengeluarkan lengkingan panjang dan dia pun menerjang ke depan, sepasang pe­dangnya digerakkan sedemikian rupa se­hingga membentuk sinar-sinar yang saling bersilang, kemudian menjadi dua gulungan sinar berkilauan yang menerjang Yeti itu dari kanan kiri. Bukan main indah dan hebatnya ilmu siang-kiam (sepasang pe­dang) dari tosu muda Kun-lun-pai ini!

Yeti itu menggeram ketika sinar-sinar pedang itu mengurungnya. Dia menggerak­kan kedua tangannya dan setiap kali pedang itu bertemu dengan tangannya, maka pedang itu terpental dan akhirnya Ciok-tosu tidak dapat bertahan lagi dan terpaksa meloncat ke belakang karena selain semua bagian tubuh mahluk ini kebal dan keras bukan main, bahkan bulu-bulunya yang pendek kasar itu agak­nya juga kuat seperti kawat-kawat baja tulen, dia juga merasa betapa kedua tangannya nyeri dan ketika dia meloncat mundur dan melihat kedua tangannya, ternyata ada bagian telapak tangannya yang pecah dan berdarah!

Ciok Kam merasa penasaran sekali. Paha kanan mahluk ini ditembus pedang yang masih menancap, berarti bahwa mahluk ini tidak seluruhnya kebal. Kalau pedang itu dapat menancap di paha, mahluk itu, mengapa kedua pedangnya tidak? Dia menerjang lagi dan kini sinar pedangnya yang bergulung-gulung menga­rah paha mahluk itu.

“Trak-trak, tringgg....!”

“Aihhhh....!” Ciok-tosu menjerit dan mencelat ke belakang, memandang pe­dang di tangan kanannya yang telah bun­tung menjadi dua potong! Pedangnya itu tadi menyerang paha kanan mahluk itu dan tanpa disengaja, mahluk itu mengge­rakkan kaki dan pedangnya bertemu dengan pedang yang menancap di paha mahluk itu dan.... pedangnya buntung se­perti terbuat dari pada tanah liat saja! Dan pedang di tangan kiri yang menusuk paha kiri mahluk itu terpental kembali!

“Dia kebal dan lihai, mari kita lari!” Hok Keng Cu berseru. Akan tetapi Ciok Kam yang merasa penasaran itu tidak mau lari. Mereka bertiga adalah to­koh-tokoh Kun-lun-san yang terkenal jagoan, masa kini mengeroyok seekor binatang aneh yang sudah terluka paha kanannya ini tidak mampu menang? Tiba-tiba Ciok Kam mengeluarkan suara me­lengking nyaring dan tubuhnya melayang ke atas. Inilah keistimewaannya dan yang membuat dia dijuluki Hui-siang-kiam (Se­pasang Pedang Terbang). Biarpun pedang­nya tinggal sebatang, namun kini dengan meloncat sangat cepatnya, tubuhnya me­layang ke atas dan dari atas dia menye­rang dan menusukkan pedangnya ke arah ubun-ubun kepala mahluk itu! Jurusnya ini adalah jurus pilihan, dan jaranglah ada tokoh kang-ouw yang akan mampu menghindarkan diri dari serangan dahsyat ini.

Yeti itu menggereng, kedua tangannya melindungi kepala dan digerakkan se­demikian kerasnya sehingga ketika pe­dang itu menusuk, pedang dan orangnya kena ditamparnya dan tubuh Ciok-tosu terpental sampai beberapa meter jauh­nya, menumbuk batang pohon dan terpe­lanting, terbanting ke atas tanah dan terus menggelundung masuk ke dalam jurang!

Melihat ini, Hok Keng Cu dan Hok Ya Cu marah sekali dan berbareng me­reka itu menyerang dengan pedang dan sabuk sutera.

“Cratt!” Ujung sabuk sutera mengenai tepi mata kanan mahluk itu. Mahluk ini mengaum dan tangan kanannya yang panjang berbulu itu bergerak sedemikian cepatnya sehingga tahu-tahu pundak Hok Keng Cu karena dicengkeram. Kuku-kuku yang amat panjang, kuat tajam dan run­cing melengkung itu meremukkan tulang pundak dan betapa pun tosu itu meronta, dia tak mampu melepaskan diri.

“Tidaaaak.... jangaaaaannn.....!” Tosu itu menjertt dan matanya terbelalak, akan tetapi mahluk itu sudah menggerak­kan lengan kirinya dengan kuku-kuku diulur menusuk dan menggurat. Terdengar kain robek dan kukunya telah merobek kain berikut kulit dan daging tosu itu, dari ulu hati sampai ke pusar sehingga terobeklah perutnya dan isinya berantak­an! Ketika dilepas, tubuh itu sudah tak bernyawa lagi dan mandi darah.

Hok Ya Cu terbelalak, mukanya pucat sekali dan dia menggigil. Maklum bahwa dia tidak akan mampu melawan mahluk itu, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melarikan diri. Akan tetapi, dengan sekali lompat saja, mahluk yang kelihatan­nya lamban itu sudah mengejarnya dan sekali tangannya bergerak, jari-jari ta­ngan yang kuat itu sudah menampar ke arah leher.

“Krekkk!” Tubuh Hok Ya Cu terpelan­ting dan roboh dengan tulang leher pa­tah-patah. Tentu saja dia pun tewas se­ketika!

Yeti itu masih marah. Sepasang ma­tanya kini menjadi kemerahan dan beri­ngas. Dia mendengus-dengus, lalu me­langkah, terpincang-pincang dan kaku karena paha kanannya tertembus pedang, memasuki guha. Di dalam guha dia me­ngamuk, mengobrak-abrik kayu-kayu ba­kar dan melempar-lemparkan batu-batu, setelah puas mengamuk lalu dia keluar dan biarpun terpincang-pincang, tubuhnya dapat dengan cepat mendaki lereng yang berbatu-batu, kemudian menuruni jurang dan lenyap ditelan semak-semak be­lukar.

Suasana menjadi sunyi sekali di tempat itu. Sunyi dan menyeramkan. Bau amis darah terbawa angin lalu, bercam­pur dengan bau daun-daun yang dihidup­kan oleh sinar matahari pagi. Burung-burung yang tadinya seperti bersembunyi ketakutan, mulai menampakkan diri. Ha­nya beberapa macam burung yang tahan hidup di daerah dingin seperti Lembah Arun ini.

Mayat Hok Keng Cu telentang me­ngerikan. Matanya terbelalak dan perutnya terbuka. Mayat Hok Ya Cu rebah miring, kepalanya terputar dan matanya juga terbelalak ketakutan.

Kurang lebih dua jam kemudian, nam­pak sesosok tubuh merangkak-rangkak keluar dari dalam jurang. Itulah Ciok Kam Tosu! Ternyata dia belum tewas dan ketika dia terguliing ke dalam jurang dalam keadaan pingsan, ada semak-semak yang kebetulan menahan tubuhnya se­hingga dia tidak sampai terjatuh ke da­lam jurang yang seolah-olah tidak berda­sar saking dalamnya itu. Dan karena dia pingsan, maka makhluk aneh itu tidak mendengar dia bergerak lagi dan mengira dia sudah mati maka meninggalkannya.

Ketika tiba di atas tebing jurang dan melihat keadaan dua orang sahabatnya, Ciok-tosu terbelalak, menghampiri mayat mereka dan menangislah tosu ini. Dengan­ hati penuh duka dia lalu menguburkan dua mayat sahabatnya itu. Sampai mata­hari turun ke barat, barulah dia selesai menggali lubang dan menguburkan mayat dua orang tosu Kun-lun-san itu. Tubuhnya terasa nyeri semua dan hampir kehabisan tenaga. Maka dengan terhuyung-huyung dia lalu kembali ke dalam guha, tanpa menutupkan batu bundar karena tenaga­nya sudah habis. Akan tetapi tidak ter­jadi sesuatu malam itu dan pada keesok­an harinya, pagi-pagi sekali Ciok-tosu sudah berada di depan makam dua orang sahabatnya. Dia mengepal tinju dan mengamang-amangkan tinjunya itu ke jurusan puncak gunung.

“Mahluk biadab, aku bersumpah akan membalaskan kematian dua orang saha­batku!” Setelah berkata demikian Ciok Kam lalu pergi meninggalkan tempat itu, terus mendaki lereng itu menuju ke ba­rat, membawa pedangnya yang tinggal sebuah dan juga membawa pedang Hok Ya Cu untuk melengkapi pedangnya se­hingga kini dia mempunyai lagi sepasang pedang, sungguhpun ukuran dan beratnya tidak sama.

Alam di sekeliling, tempat itu masih indah seperti biasa, tidak terpengaruh oleh peristiwa itu. Akan tetapi bagi pandangan Ciok-tosu, sama sekali tidak berobah. Keindahan alam yang tadinya mempesona itu kini baginya berobah menjadi keadaan yang liar dan buas penuh ancaman maut, dan dipandangnya dengan sinar mata penuh dendam keben­cian dan kemarahan di samping rasa takut yang besar.

Pada waktu itu, seperti telah diceritakan di bagian depan. Pegunungan Hi­malaya dibanjiri pengunjung yang terdiri dari orang-orang kang-ouw bermacam-macam golongan, baik dari golongan ber­sih maupun golongan sesat. Berbondong-bondong mereka datang mendaki Pegunungan Himalaya, ada yang datang dari timur langsung mendaki pegunungan itu, ada yang melalui Negara Bhutan atau Nepal, mendaki dari selatan, dan ada pula yang datang dari utara.

Pada suatu pagi, dari arah utara ber­jalan serombongan orang melalui dataran tinggi yang berlapis pasir, berjalan ter­seok-seok kelelahan menuju ke selatan. Mereka terdiri dari belasan orang dan melihat gerak-gerik mereka, kebanyakan dari mereka itu tentulah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, atau setidaknya merupakan ahli-ahli silat yang tidak gentar menghadapi kesukaran dan bahaya.

Memang demikianlah adanya. Dua belas orang di antara mereka adalah serombongan piauwsu (pengawal-pengawal bayaran) dari perusahaan ekspedisi Pek-i-piauw-kiok (Perusahaan Pengawalan Baju Putih). Baju mereka semua memang berwarna putih, dengan sulaman sebatang senjata rahasia Hui-to (pisau terbang) di dada kiri, sungguhpun celana mereka ber­macam-macam warnanya. Sulaman pisau terbang itu bukan sekedar hiasan belaka karena memang semua anggauta Pek-­i-piauw-kiok mempunyai keahlian melem­parkan pisau sebagai senjata rahasia dengan lontaran cepat, kuat dan tepat.

Diantara dua belas orang ini terdapat pemimpinnya, seorang piauwsu yang usia­nya kurang lebih lima puluh tahun, ber­tubuh kurus namun memiliki sepasang mata yang tajam dan gerak-geriknya me­nunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli silat yang pandai dan seorang yang telah memiliki banyak pengalaman. Piauwsu ini adalah pemimpin Pek-i-piauw-kiok sendirli bernama Lauw Sek, dan julukannya adalah Toat-beng Hui-to (Pisau Terbang Pencabut Nyawa) karena memang dia se­orang ahli yang pandai dalam penggunaan senjata ini dan dialah yang melatih se­mua anak buahnya sehingga mereka se­mua mahir melontarkan pisau terbang. Sebelas orang anak buahnya itu merupa­kan anggauta piauw-kiok pilihan yang rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi karena saat itu Lauw-piauwsu se­dang melakukan tugas yang amat pen­ting. Dia bersama sebelas orang anak buahnya bertugas mengawal pengiriman barang-barang berharga milik seorang pedagang dari Katmandu di Nepal yang dipikul oleh empat orang dan sebagian dipanggul pula oleh para anggauta piauw-kiok. Barang-barang berharga ini dikirim dari Ceng-tu di Se-cuan untuk dibawa ke rumah pedagang itu di Nepal dan tentu saja untuk biaya pengiriman dan penga­walan ini, si saudagar membayar mahal sekali kepada Lauw-piauwsu, Perjalanan itu amat jauh, sukar dan juga penuh ba­haya dan hanya rombongan piauwsu seperti yang dipimpin oleh Lauw-piauwsu itu sajalah yang berani menerima peker­jaan berat itu.

Di dalam rombongan itu terdapat pula seorang gadis kecil bersama kakeknya yang sudah tua namun yang juga memi­liki kekuatan yang mengagumkan. Kakek ini jelas memiliki kepandaian silat yang kuat, dapat dibuktikan dengan cara dia mendaki jalan-jalan yang sukar dan mendakl, dan kadang-kadang dia masih harus menggendong cucunya sambil membawa buntalan bekal mereka berdua. Gadis kecil itu berusia kurang lebih dua belas tahun, seorang gadis yang mungil dan manis, lin­cah jenaka dan memiliki watak bengal dan pemberani. Hanya di waktu melewati jurang-jurang yang berbahaya sajalah maka dia tidak membantah kalau kakek­nya memondongnya. Akan tetapi kalau hanya melewati jalan-jalan kasar dan sukar saja tanpa ada bahaya mengancam, anak ini berjalan mendahului kakeknya. Sebentar saja anak perempuan itu dikenal oleh semua anggauta rombongan dan di­sebut Siauw Goat (Bulan Kecil). Memang, kelincahan anak itu, kejenakaan dan ke­gembiraannya, membuat dia seperti menjadi sang bulan yang menerangi kegelapan malam dan mendatangkan keindahan de­ngan suaranya yang nyaring, nyanyiannya yang merdu, tariannya yang gemulai dan gerak-geriknya yang lincah jenaka.

Tidak ada seorang pun di antara rom­bongan itu yang mengetahui nama se­lengkapnya dari Si Bulan Kecil. Mereka mendengar kakek itu menyebut “Goat” kepada anak perempuan itu, maka mere­ka lalu menyebutnya Siauw Goat. Bahkan anak itu pun hanya tersenyum manis saja disebut seperti itu, dan kalau ada yang iseng-iseng bertanya, dia pun mengaku bahwa namanya “Goat”. Kakek itu pen­diam sekali, tidak pernah mau bica­ra kalau tidak perlu. Ketika ada orang menanyakan, dia hanya menjawab pendek bahwa namanya hanya terdiri dari satu huruf, yaitu “Kun”. Maka terkenallah dia sebagai Kun-lopek atau Kakek Kun! Se­mua orang menduga bahwa tentu ada rahasia yang menarik di balik riwayat kakek ini.

Selain Kun-lopek dan Siauw Goat, terdapat pula seorang sastrawan yang juga pendiam seperti kakek itu dan keadaannya lebih aneh lagi karena dia sa­ma sekali tidak mau menerangkan nama­nya! Akan tetapi tidak ada orang yang berani mendesak untuk bertanya kepadanya, karena diam-diam Lauw-piauwsu, kepala rombongan pengawal bayaran itu yang berpengalaman dan bermata tajam, sudah membisikkan kepada semua orang bahwa sastrawan itu adalah seorang yang tentu memiliki kepandaian amat tinggi dan agaknya merupakan seorang di anta­ra orang-orang kang-ouw yang datang ke Pegunungan Himalaya untuk mencari pedang kerajaan yang dicuri orang. Maka semua orang tidak ada yang berani ba­nyak cakap, dan memandang kepada sas­trawan itu dengan segan dan juga takut bukan tanpa kecurigaan. Namun, sastra­wan itu tidak peduli, dia seperti tengge­lam dalam lamunannya sendiri. Usianya masih muda, kurang lebih dua puluh tahun, wajahnya tampan dan sikapnya ga­gah biarpun gerak-geriknya amat halus. Semuda itu dia sudah kelihatan pendiam dan sering kali muram wajahnya, begitu serius seperti wajah seorang kakek saja! Pakaiannya sederhana, pakaian yang biasa dipakai oleh sastrawan atau orang yang bersekolah, dengan jubah yang agak long­gar dan lebar. Dugaan Lauw-piauwsu dan sikap sastrawan muda ini yang amat pendiam membuat orang lain dalam rom­bongan itu tidak berani banyak bicara dengan dia.

Selain Kakek Kun, Siauw Goat dan sastrawan ini, terdapat pula beberapa orang pedagang, yang karena mendengar akan adanya orang-orang kang-ouw di Pegunungan Himalaya, tidak berani me­lakukan perjalanan tanpa teman dan ikut bersama rombongan piauwsu yang mereka andalkan, dengan membayar uang jasa sekedarnya. Jumlah para pedagang ini ada tiga orang sehingga dengan rombong­an piauwsu, rombongan mereka semua berjumlah delapan belas orang ditambah pula empat orang pemikul barang-barang kawalan. Jadi semua ada dua puluh dua orang.

Tiga orang pedagang keliling itu ada­lah orang-orang yang bertubuh gendut-gendut dan mereka sudah mandi keringat karena sejak tadi jalan mendaki terus. Napas mereka juga sudah kempas-kempis. Beberapa kali sambil berjalan mereka minum air dari tempat air mereka, akan tetapi karena minum ini keringat mereka menjadi semakin membanjir keluar.

“Ahhh.... kami sudah lelah sekali.... apakah sebaiknya tidak mengaso dulu, Lauw-piauwsu?” seorang di antara mere­ka mengeluh.

“Paman dari tadi minum terus sih, maka banyak keringat dan badan menjadi semakin berat saja!” tiba-tiba Siauw Goat mencela sambil tersenyum menggo­da.

Pedagang gendut itu pura-pura melo­tot. “Ah, kau Siauw Goat, aksi benar! Seolah-olah kau sendiri tidak lelah!”

Siauw Goat mencibirkan bibirnya yang mungil, lalu mengangkat dada dan berto­lak pinggang. “Aku tidak selelah Paman! Buktinya, hayo kita berlomba lari!” tantangnya. Tentu saja yang ditantang hanya menyeringai. Jalan biasa di tempat pen­dakian itu sudah payah, apalagi diajak berlumba lari. Dan memang anak perem­puan itu masih nampak gesit.

“Sedikit lagi.” kata Lauw-piauwsu, “kita mengaso di hutan depan sana itu.” Dia menuding ke depan dan memang di sebelah depan, masih agak jauh, nampak gerombolan pohon hijau lebat. Matahari sudah naik tinggi, panasnya memang tidak seberapa karena hawa di situ sejuk dan sinar matahari masih terlapis kabut, akan tetapi berjalan mendaki terus-mene­rus sejak tadi memang amat melelahkan dan pohon-pohon di depan itu seperti melambai-lambai membuat orang ingin lekas-lekas mencapai tempat itu untuk melempar diri di bawah pohon yang rin­dang.

Agaknya karena ingin memamerkan dan membuktikan bahwa dia tidak sele­lah pedagang gendut itu. Siauw Goat sudah berjalan cepat setengah berlarian menuju ke depan, karena dara ini pun senang sekali melihat hutan di depan itu setelah sejak kemarin mereka melalui daratan tinggi berpasir yang membuat langkah-langkah terasa berat kare­na kedua kaki selalu terpeleset di pasir yang lunak, apalagi karena jalannya terus mendaki. Selama sehari semalam sejak kemarin, mereka hanya melihat pasir saja, dengan beberapa tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon yang kurus dan setengah kering. Maka, tentu saja sebuah hutan akan merupakan pemandangan baru yang amat menyegarkan.

“Hati-hatilah, Goat!” Kakek Kun ber­kata akan tetapi tidak melarang cucunya yang setengah berlari mendahului semua rombongan itu, Siauw Goat menoleh, tertawa manis kepada kakeknya.

“Jangan khawatir, Kong-kong!” kata­nya melambaikan tangan lalu melanjutkan larinya ke depan.

Kebetulan sekali Kakek Kun berjalan di dekat sastrawan muda itu. Sejak tadi sastrawan itu memandang ke arah gadis cilik yang berlarian ke depan, alisnya berkerut dan akhirnya, tanpa terdengar orang lain, dia berkata kepada kakek di sebelahnya itu dengan suara tenang dan halus, “Lopek salah sekali membawa cucu yang demikian muda dalam perjalanan yang sukar ini!” Suara itu tenang dan halus, juga lirih, akan tetapi penuh nada teguran sehingga kakek itu menoleh, sejenak menentang pandang mata sastra­wan muda itu. Dua pasang mata bertemu pandang dan keduanya diam-diam terke­jut. Sastrawan muda itu melihat sinar mata yang mencorong keluar dari sepa­sang mata kakek itu yang biasanya bermuram durja dan termenung saja, dan sebaliknya, kakek itu pun melihat sinar mata yang amat tajam menusuk dari mata pemuda sastrawan itu, jelas membayangkan pandang mata seorang yang “berisi”. Memang keduanya, dalam sikap mereka, yang pendiam dan tidak acuh, sudah saling mencurigai dan menduga bahwa masing-masing adalah orang yang diliputi rahasia dan bukan orang semba­rangan, sungguhpun keduanya kelihatan seperti orang sastrawan muda dan se­orang kakek yang keduanya lemah.

Sastrawan itu tiba-tiba merasa muka­nya panas dan tahulah dia bahwa muka­nya menjadi merah karena malu. Karena merasa seolah-olah sinar mata kakek yang mencorong itu menjawabnya dengan teguran. “Kau peduli apa?”

Akan tetapi karena merasa penasaran dan juga mengkhawatirkan keselamatan Siauw Goat yang mungil dan masih kecil itu, dan merasa bahwa dia sudah terlan­jur mengajukan pertanyaan yang nadanya menegur, dia merasa kepalang-tanggung dan sastrawan itu melanjutkan kata-kata­nya dengan lirih tanpa terdengar orang lain, kini dengan sebuah pertanyaan. “Sesungguhnya, ke manakah Lopek hendak membawa cucu Lopek yang kecil itu? Tentu saja kalau boleh aku bertanya?”

Kembali mereka berpandangan dan beberapa lamanya kakek itu tidak me­jawab, hanya melanjutkan langkahnya satu-satu dan perlahan-lahan, akan tetapi pandang matanya tak pernah meninggal­kan wajah pemuda sastrawan itu. Kemu­dian terdengarlah dia menjawab, atau lebih tepat lagi berbalik dengan perta­nyaan pula. “Dan ke mana engkau hendak pergi, orang muda?”

Sastrawan muda itu tersenyum. Sela­ma dalam perjalanan ini, dia merahasia­kan diri dengan angkuhnya, karena memang dia tidak ingin dikenal orang. Akan tetapi siapa kira, dan kini bertemu “batu” dan kakek ini ternyata tidak kalah angkuh olehnya! Buktinya, sebelum menjawab pertanyaannya, kakek ini bertanya lebih dulu, tanda bahwa kakek itu tidak akan menjawab sebelum dia menjawab lebih dulu! “Baiklah,” katanya lirih. “Jangan kaukira bahwa aku ke sini untuk mencari pedang kerajaan. Sama sekali bukan. Aku mendaki pegunungan ini untuk mencari isteriku yang pergi!”

Sepasang mata yang mencorong ta­jam itu tiba-tiba melunak, seolah-olah merasa kasihan mendengar ucapan ini, akan tetapi hanya sebentar dan kembali sinar mata kakek itu menjadi acuh tak acuh. Kemudian, dengan nada suara sama tak acuhnya, dia berkata sebagai jawab­an dari pertanyaan sastrawan muda tadi. “Aku membawa cucuku karena dia tidak dapat kutinggalkan, dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain aku!”

Sekarang sastrawan itu yang merasa kasihan, bukan kepada Si kakek melain­kan kepada anak perempuan itu. Dia menoleh dan melihat anak itu masih berlari-lari dengan gembira, hampir tiba di hutan, “Mengapa diajak ke tempat seperti ini?” Dia mendesak.

“Untuk mencari musuh kami!” Jawab­an itu singkat saja dan kini kakek itu mempercepat langkahnya, sengaja men­jauh. Sastrawan itu kembali terkejut. Dia makin merasa yakin bahwa kakek itu tentu bukan orang sembarangan, sungguh­pun sama sekali tidak pernah memper­lihatkan kepandaiannya.

Siauw Goat telah tiba lebih dulu di tepi hutan. Melihat pohon-pohon raksasa yang berdaun lebat, hijau segar itu, dia gembira sekali dan terus berloncatan memasukinya. Tiba-tiba dia berhenti dan memandang ke depan. Di ba­wah sebatang pohon raksasa nampak seorang kakek rebah telentang di atas rumput tebal. Kakek ini seorang penge­mis, itu sudah jelas. Pakaiannya penuh tambalan dan robek-robek di sana-sini, di dekatnya, bersandar di sebatang pohon, nampak sebatang tongkat bambu butut dan di bawahnya terdapat sebuah ciu-ouw (guci arak) kuningan butut, dan se­buah mangkok kosong yang sudah retak-retak pinggirnya. Jelaslah, dia adalah seorang pengemis tua yang sedang tidur. Melihat seorang kakek pengemis tidur di tepi hutan, di bawah pohon, di tempat yang liar dan sunyi tidak ada orangnya itu, tentu saja Siauw Goat menjadi ter­heran-heran. Biasanya, para jembel tentu berkeliaran di kota-kota di mana terda­pat banyak orang kaya yang dapat mem­beri derma kepada mereka. Akan tetapi mengapa jembel tua ini berada di tempat sunyi seperti ini? Mau mengemis kepada siapa?

Siauw Goat adalah seorang anak pe­rempuan yang hatinya perasa dan peka sekali, mudah tertawa, mudah marah, mudah kasihan, pendeknya segala macam perasaan mudah sekali menguasai hatinya. Melihat kakek jembel yang bertubuh kurus itu, segera timbul perasaan kasihan. Maka dia lalu menghampiri, dengan maksud memberi sekedar sumbangan karena dia mempunyai uang kecil di saku bajunya. Dia ingin memberi beberapa potong uang kecil kepada pengemis itu, lupa bahwa di tempat seperti itu, apakah gunanya uang? Dia sendiri pernah me­ngomel kepada kakeknya karena sama sekali tidak diberi kesempatan untuk jajan karena di sepanjang jalan tidak ada orang berjualan apa pun.

“Kakek tua, bangunlah, kuberi derma padamu!” katanya lirih.

Dia melihat betapa wajah yang telen­tang itu membuka mata, hanya sebentar dan dara cilik itu melihat sepasang mata yang mengeluarkan sinar tajam seperti mata kakeknya, akan tetapi hanya seben­tar mata itu terbuka, menatapnya, lalu terpejam kembali! Siauw Goat merasa penasaran. Jelas bahwa kakek ini tidak tidur, akan tetapi hanya tidak mempe­dulikan dia saja dan pura-pura tidur!

“Hei, Lo-kai....!” teriaknya sambil mengguncang-guncang pundak kakek itu untuk membangunkannya. Akan tetapi yang diguncang-guncang tetap tidur, bah­kan kini terdengar dia mendengkur!

“Lo-kai (Pengemis Tua), kau tidak tidur, jangan bohongi aku!” Siauw Goat mencela dan terus mengguncangnya, na­mun tidak ada hasilnya.

“Hemm, kau sengaja mempermainkan aku, ya?” Siauw Goat meloncat berdiri, sepasang matanya yang jernih dan jeli itu bergerak-gerak mencari akal, deretan giginya yang putih menggigit bibir ba­wah. Rasa kasihan yang timbul melihat keadaan kakek pengemis itu sudah lenyap sama sekali, terganti oleh perasaan ge­mas dan marah karena merasa dia di­permainkan oleh pengemis tua itu! Dan kini Si Bengal ini sudah memutar-mutar otak untuk mencari akal, untuk memba­las kakek yang mempermainkannya.

Dia tersenyum kecil dan menutup mulut dengan jari tangan kiri untuk me­nahan ketawa, kemudian dia mencabut sebatang rumput alang-alang yang tum­buh di bawah pohon itu. Dengan berjing­kat-jingkat dia menghampiri lagi kakek pengemis yang kelihatan masih tidur mendengkur itu, dan menggunakan rum­put ilalang yang panjang itu dia lalu mengkilik hidung kakek itu dengan ujung rumput yang runcing. Siauw Goat merasa yakin bahwa siapapun juga, kalau dikilik seperti itu, akan merasa geli dan pasti akan terbangun, apalagi kakek yang ha­nya pura-pura tidur ini.

“Ehh....?” Dia berbisik dengan hati kesal dan kedua alisnya berkerut. Sampai lelah tangannya, kakek itu tetap saja tidur mendengkur, seolah-olah sama sekali tidak merasakan kilikan ujung ilalang di sekitar hidungnya itu. Bahkan ketika ujung rumput itu memasuki lubang hi­dungnya, dia tetap tidak bergerak sedikit pun! Padahal, orang lain kalau dlkllik lubang hidungnya seperti itu, tentu tidak hanya akan bangun, akan tetapi juga dapat bersin.

Makin kesallah hati anak perempuan itu. “Ih, tidurnya seperti babi mati! Ha­nya akan terbangun kalau disiram air!” Teringat air, dara cilik itu bangkit berdiri dari jongkoknya dan memandang ke kanan kiri. Dia melihat rombongan itu sudah makin dekat. Dia harus cepat-cepat memaksa kakek ini bangun sebelum kong-kongnya dekat dan tentu kong-kong­nya akan memarahinya. Dilihatnya ciu-ouw (guci arak) di dekat batang pohon itu lalu diambilnya. Dibukanya tutup guci dan hatinya girang melihat bahwa didalam guci masih ada araknya. Kalau tidak ada air, arak pun jadilah untuk memaksa Si Tua malas itu bangun, pikir­nya. Maka dia lalu mendekati kakek jembel itu dan menuangkan arak dari guci ke arah muka Si Pengemis tua!

Tiba-tiba terjadi keanehan yang mem­buat Siauw Goat menahan seruannya. Dia merasa seperti ada tenaga yang menahan tangannya, dan ketika arak itu tertumpah keluar guci, arak itu secara aneh me­luncur tepat ke dalam mulut Si Kakek jembel yang sudah terbuka dan terdengar suara celegukan ketika kakek itu minum arak yang memasuki mulutnya. Padahal, mulut itu tidak berada tepat di bawah guci sehingga arak itu meluncur miring! Seolah-olah arak itu tersedot oleh tenaga aneh sehingga dapat langsung memasuki mulut!

“Wah, kauhabiskan arakku, bocah se­tan!” Tiba-tiba guci arak itu berpindah tangan dan kakek pengemis yang sudah bangun duduk itu mengincar-incar ke dalam guci araknya yang sudah kosong karena memang araknya tinggal tidak banyak lagi dan semua telah diminumnya secara aneh tadi.

Siauw Goat menjadi marah. “Apa? Aku yang menghabiskan arakmu? Kakek jembel, jangan kau menuduh orang sem­barangan, ya? Tak tahu malu, engkau sendiri yang minum habis arak itu, se­karang menuduh aku yang menghabiskan. Hih!”

“Guci itu berada di sana, apa bisa bergerak sendiri ke mulutku kalau tidak engkau setan cilik ini yang mengambil­nya? Arak tinggal sedikit kuhemat-he­mat, tahu-tahu sekarang kauhabiskan!”

Kakek jembel itu marah-marah dan ber­sikap seperti anak kecil.

“Ihh, kau galak dan tak tahu malu! Arak itu kau sendiri yang minum habis, mau marah kepadaku. Sudahlah, tadinya aku mau memberi derma uang, sekarang jangan harap ya? Aku tidak suka pa­damu!” Siauw Goat lalu membalikkan tubuh hendak pergi meninggalkan kakek pengemis itu. Akan tetapi baru kira-kira tiga meter melangkah, tiba-tiba tubuhnya tertahan sesuatu, seolah-olah ada dinding tak tampak yang menghalangnya untuk melangkah maju terus.

“Aha, kau hendak lari ke mana, bocah setan? Enak saja, sudah menghabiskan arak orang lalu mau pergi begitu saja. Engkau harus mengganti arakku!”

Siauw Goat tidak tahu bagaimana dia tidak mampu bergerak maju lagi. Akan tetapi anak ini semenjak kecil sudah banyak melihat keanehan-keanehan yang diperbuat oleh orang-orang pandai ilmu silat, oleh karena itu dia tidak merasa heran dan dia dapat menduga bahwa tentu kakek jembel ini seorang yang pandai dan yang sengaja mempergunakan kepandaian yang aneh untuk menahannya.

“Idihhh! Tak tahu malu! Mulut sendiri yang minum, perut sendiri yang menam­pung, orang lain yang disuruh bertang­gung jawab. Mana bisa aku disuruh mengganti, pula mana aku punya arak? Aku tidak pernah minum arak!” teriaknya sambil membalikkan tubuh dan meman­dang kakek itu dengan sepasang matanya yang jernih tajam.

“Ha, kulihat engkau tidak datang sendiri. Rombonganmu tentu membawa arak untuk mengganti arakku!”

“Tidak! Biar mereka punya arak sekali pun, aku tidak sudi mengganti arak yang kauminum sendiri!” Siauw Goat yang mulai timbul kemarahan, dan kekeras­an hatinya itu membentak.

“Huh, kalau begitu, harus kauganti dengan darahmu sebanyak arakku tadi!” pengemis itu berkata. Akan tetapi keli­rulah dia kalau dia mengira dapat me­nakut-nakuti anak perempuan itu. Men­dengar ucapan ini, sepasang mata itu makin terbelalak dan makin marah.

“Aihh! Kiranya engkau seorang jahat! Engkau tentu sebangsa siluman yang tidak hanya jahat akan tetapi juga kejam sekali suka minum darah manusia! Kong­kong tentu akan membasmi siluman ma­cam engkau!”

Kembali Siauw Goat hendak mening­galkan tempat itu, akan tetapi tetap saja dia tidak mampu menggerakkan kakinya, padahal pengemis itu hanya meluruskan tangan kiri saja ke arahnya dalam jarak tiga meter! Pada saat itu, rombongan telah tiba di situ dan yang paling depan adalah para piauwsu. Empat orang piauw­su yang berada paling depan, terkejut melihat Siauw Goat berdiri seperti pa­tung dan meronta-ronta seperti tertahan sesuatu itu dan seorang kakek jembel yang duduk di bawah pohon menjulurkan tangan ke arah anak itu. Mereka adalah piauwsu-piauwsu yang berpengalaman dan mereka dapat menduga bahwa tentu anak perempuan itu berada di bawah ke­kuasaan Si Kakek Jembel sungguhpun mereka tidak tahu secara bagaimana dan mengapa. Mereka, seperti yang lain-lain, juga amat sayang dan suka kepada Siauw Goat, maka serentak empat orang ini meloncat ke dekat Siauw Goat.

“Kau kenapakah, Siauw Goat?”

“Kakek jembel itu.... aku.... aku tak dapat bergerak maju!” kata Siauw Goat yang meronta-ronta, seperti melawan tangan tak nampak yang memeganginya.

Empat orang itu lalu memegang ke­dua tangan Siauw Goat dengan maksud hendak melepaskannya, akan tetapi tiba-tiba ada tenaga luar biasa yang mendo­rong mereka dan betapa pun empat orang piauwsu itu mempertahankannya, tetap saja mereka terdorong dan jatuh tunggang-langgang seperti daun-daun kering tertiup angin keras. Melihat ini, terkejutlah Lauw-piauwsu. Dia tadi me­lihat betapa kakek pengemis itu hanya mendorongkan tangan kirinya ke depan dan empat orang anak buahnya telah terpelanting, tanda bahwa kakek itu te­lah melakukan pukulan jarak jauh dan ternyata tenaga sakti itu amatlah kuat­nya. Di tempat seperti itu melihat orang menyerang anak buahnya, apalagi mereka telah mendengar bahwa di pegunungan ini sekarang banyak datang orang-orang dari kaum sesat, maka tentu saja Lauw-piauwsu segera menduga bahwa tentu kakek itu merupakan seorang tokoh kaum sesat yang sengaja menghadang dengan niat tidak baik. Apalagi melihat betapa Siauw Goat masih juga belum mampu bergerak, maka secepat kilat kedua ta­ngannya itu masing-masing telah melon­tarkan masing-masing tiga batang pisau terbang sehingga secara berturut-turut ada enam buah pisau terbang menyam­bar-nyambar ke arah enam bagian tu­buh yang berbahaya dari kakek jembel itu!

Sepasang mata kakek pengemis itu terbelalak dan ternyata dia memiliki mata yang lebar sekali, tangannya telah menangkap tongkat bambunya yang ter­sandar pada batang pohon di belakangnya dan begitu dia menggerakkan tongkat, nampak gulungan sinar menangkis caha­ya-cahaya pisau terbang yang menyam­bar. Terdengar suara nyaring dan pisau-pisau terbang itu meluncur kembali dan menyerang pemiliknya dengan kecepatan yang luar biasa! Tentu saja Lauw-piauwsu terkejut bukan main. Akan tetapi sebagai seorang ahli pisau terbang, tentu saja dapat menghindarkan diri dari sambaran pisau-pisaunya sendiri. Tangan kanannya sudah mencabut sepasang siang-to (golok sepasang) yang kemudian dibagi dua de­ngan tangan kirinya dan dua gulungan si­nar golok itu menyampok pisaunya yang runtuh ke atas tanah, lalu diambilnya dan disimpannya kembali ke pinggangnya.

Tiba-tiba terdengar suara Kakek Kun yang tenang namun berwibawa, “Tahan semua, jangan mencampuri urusan cucu­ku!” Seruan ini ditujukan kepada Lauw-piauwsu dan anak buahnya yang tentu saja sudah menjadi marah dan siap untuk mengeroyok. Mendengar seruan ini, Lauw-piauwsu lalu meloncat mundur dan memberi isyarat kepada semua anak buahnya untuk mundur. Dia sendiri diam-diam merasa kaget dan kagum karena ketika dia menangkis pisau-pisau terbang­nya tadi, ketika golok-goloknya bertemu dengan pisau-pisau kecil itu, dia merasa betapa kedua tangannya kesemutan, tan­da bahwa tenaga yang melontarkan pi­sau-pisaunya itu amatlah kuatnya. Pada­hal kakek itu hanya menangkis saja pi­sau-pisau itu dengan tongkat bambunya. Maka dapatlah, dibayangkan betapa lihai­nya jembel tua itu!

Kakek Kun kini melangkah maju, masih dalam jarak tiga meter dari cucu­nya. Dengan sepasang matanya yang mencorong, dia menatap ke arah kakek jembel yang masih duduk sambil terse­nyum itu. Kemudian Kakek Kun mengangguk dan berkata kepada pengemis itu, “Sobat, kalau cucuku mempunyai kesalah­an terhadapmu, anggaplah saja itu kelan­cangan anak-anak, perlukah engkau menanggapinya dengan serius? Kalau hendak berurusan, baiklah kau berurusan dengan aku sebagai kakeknya yang bertanggung jawab!”

Lauw-piauwsu dan orang-orangnya memandang dengan hati tegang dan juga dengan penuh keheranan. Baru sekarang mereka mendengar Kakek Kun bicara banyak dan begitu kakek ini mengeluar­kan suara, mereka dapat mengenal ciri-ciri kegagahan seorang kang-ouw yang menghadapi segala bahaya dan ancaman­ dengan tenang dan dingin. Kakek Kun memang dapat melihat betapa cucunya berada dalam kekuasaan tenaga sakti dari pengemis tua itu, maka dia tidak mau menggunakan kekerasan dan melarang orang-orang lain menyerang penge­mis itu karena hal ini dapat membahaya­kan cucunya.

Pengemis itu membalas pandang mata Kakek Kun, lalu mencorat-coret tanah di depannya dengan tangan kanan yang me­megang tongkat, sedangkan tangan kiri­nya masih tetap diluruskan ke arah Siauw Goat yang masih berdiri tak mam­pu pergi. Kemudian dia berkata dengan suara bernada mengejek. “Kalau berada di dunia bawah sana, tentu saja aku Si Jembel Tua tidak akan sudi ribut-ribut dengan seorang anak kecil. Akan tetapi di sini, arak merupakan sebagian nya­waku. Arakku tinggal sedikit dihabiskan oleh anak lancang ini, maka sebelum arakku diganti, takkan kubebaskan dia!”

Suaranya penuh tantangan ditujukan ke­pada semua orang yang berdiri di depan­nya.

“Bohong! Dia bohong, Kong-kong! Sisa arak dalam gucinya itu dia minum sen­diri sampai habis!” teriak Siauw Goat dengan marah.

Kakek Kun mengerutkan alisnya yang sudah putih dan matanya yang mencorong menyambar kepada wajah pengemis itu. “Cucuku tidak pernah membohong!” ben­taknya.

Pengemis tua itu memandang kepada Siauw Goat. “Setan cilik, hayo kaukata­kan siapa yang mengambil guci arakku dan menuangkan sisa araknya sampai habis!”

“Memang aku yang mengambil, aku yang menuangkan sisa araknya, akan tetapi kutuangkan semua ke dalam mulutmu! Hayo kausangkal kalau berani!” bentak Siauw Goat dengan sikap menan­tang.

“Tetap saja perbuatanmu membuat arakku habis, baik masuk perut ataupun masuk tanah. Engkau atau orang lain harus mengganti arakku!” kakek jembel itu berkeras, dengan sikap kukuh.

Tiba-tiba terdengar suara yang halus tenang. “Locianpwe, semua omongan baru benar kalau ada buktinya. Apakah. Lo­cianpwe dapat membuktikan bahwa guci arakmu itu telah kosong?” Semua orang menoleh, juga pengemis tua itu dan yang bicara dengan tenang itu bukan lain adalah Si Sastrawan muda tadi, yang sudah berdiri dengan sikap tenang meng­hadapi pengemis tua itu.

“Tentu saja!” Pengemis tua itu ber­teriak. “Lihat, ini guci arakku kosong sama sekali!” Dia mengangkat guci arak yang kosong itu, mengarahkan mulut guci ke depan.

Tiba-tiba nampak sinar kuning emas meluncur dari tangan sastrawan itu dan tercium bau arak wangi. Semua orang terbelalak ketika melihat bahwa sinar kuning emas itu adalah arak yang mun­crat keluar dari dalam guci arak yang dipegang oleh tangan kanan sastrawan itu dan arak itu terus meluncur ke depan, tepat sekali memasuki guci arak kosong­nya yang dipegang oleh Si Pengemis tua! Demikian cepatnya peristiwa ini terjadi dan demikian kagum dan herannya semua orang sehingga suasana menjadi sunyi dan yang terdengar hanyalah percikan arak yang masuk ke dalam guci kakek jembel. Kakek itu pun terbelalak dan tersenyum lebar. Gucinya pun terisi arak dan kini sastrawan itu sudah menyimpan kembali gucinya dan sinar kuning emas itu pun lenyap.

“Saya telah mengganti arakmu, Lo­cianpwe!” katanya tenang.

Kakek jembel itu mendekatkan mulut guci ke depan hidungnya, menyedot-nye­dot dan terkekeh girang. “Wah, arak wangi dari Pao-teng kiranya! Hemm, wangi.... wangi!” Dan dia pun meneguk sekali, mengecap-ngecap bibirnya. “He­bat, arak tua yang lezat. Ha-ha-ha, anak baik, kau boleh pergi sekarang.” Dia menurunkan tangan kirinya dan Siauw Goat pun dapat bergerak. Anak ini lalu berlari mendekati kong-kongnya.

“Kong-kong, kaubunuhlah siluman ja­hat ini!” katanya merengek, menarik tangan kakeknya mendekati pengemis itu. Akan tetapi pengemis itu sudah mere­bahkan diri lagi, meringkuk miring seper­ti orang hendak tidur lagi, tanpa mem­pedulikan mereka semua!

Tentu saja Kakek Kun menjadi bi­ngung dan ragu. Sebagai seorang yang berpemandangan luas, dia tahu bahwa kakek jembel itu adalah seorang kang-ouw yang pandai, dan kesalahannya ter­hadap cucunya tidaklah sedemikian he­batnya sehingga perlu dibunuh seperti diminta oleh cucunya. Maka dia menarik tangan Siauw Goat menjauhi pengemis itu. Siauw Goat yang bertolak pinggang dengan tangan kiri memandang kepada pengemis itu penuh kemarahan, tertarik pergi menjauh.

“Kong-kong, katamu kita harus ber­sikap gagah, kalau bertemu orang jahat atau siluman harus menentangnya. Jem­bel tua bangka ini jelas orang jahat atau siluman, mengapa Kong-kong tidak meng­hajarnya? Dia akan menjadi semakin besar kepala!”

Kembali Kakek Kun mengerutkan alisnya karena bingung. Dia tidak ingin mencari perkara dengan kakek jembel itu, akan tetapi kalau dia diam saja, tentu kakek pengemis itu akan meman­dang rendah kepadanya, dan dia akan menjadi buah tertawaan orang-orang lain.

“Sudahlah, perlu apa layani dia?” Akhirnya dia berkata. Ucapan ini mem­buat Si Kakek pengemis bangkit lalu dia tertawa bergelak, jenggotnya yang tidak teratur itu bergerak-gerak.

“Ha-ha-ha!” Kakek jembel itulah yang tertawa mendengar permintaan cucu kepada kakeknya itu. “Apakah aku ini dianggap lalat saja yang mudah dibunuh? Eh, engkau yang mempunyai cucu bengal itu, coba kauambil daun ini apakah dapat sebelum bicara tentang bunuh-membu­nuh!” Sambil berkata demikian, jembel tua itu mengambil sehelai daun pohon yang gugur. Daun yang sudah mulai me­nguning itu lalu dilontarkannya ke atas dan daun itu melayang naik. Akan tetapi kakek jembel itu tidak menurunkan ta­ngannya dan tangan itu, seperti ketika dia “menahan” Siauw Goat tadi, diang­kat dengan telapak tangan ke arah daun itu dan.... daun itu tidak dapat melayang turun, mengambang di udara seperti tertahan oleh suatu tenaga yang tidak nam­pak, kemudian daun itu melayang ke arah Kakek Kun!

Kakek Kun sejak tadi memandang tajam dan mengertilah dia bahwa kakek jembel itu memamerkan tenaga sin-kang yang dipergunakan untuk menyerangnya dengan daun itu, sungguhpun penyerangan itu hanya merupakan suatu ujian belaka.

“Hemm, cucuku memang masih kecil, akan tetapi engkau tak lain hanyalah se­orang anak kecil pula yang bertubuh tua bangka!” kata Kakek Kun dan dia pun lalu meluruskan tangannya ke depan, ke arah daun yang melayang-layang ke arah dirinya itu.

Daun itu berhenti ditengah-tengah, tidak meluncur maju lagi, seolah-olah tertahan oleh tenaga lain yang datang dari kakek itu, bahkan terdorong mundur kembali ke arah kakek pengemis. Akan tetapi kakek pengemis itu menggetarkan tangannya dan kini daun itu berhenti di tengah-tengah di antara dua orang kakek. Mereka tidak bicara lagi, dan mata me­reka ditujukan ke arah daun yang diam saja di udara seperti terjepit antara dua kekuatan dahsyat! Makin lama dua orang kakek itu makin diam dan lengan mere­ka yang diluruskan tergetar, makin lama makin menggigil dan dari kepala mereka mulai nampaklah uap putih! Inilah tanda bahwa keduanya saling mengerahkan te­naga untuk mencapai kemenangan dalam adu tenaga dalam yang amat dahsyat itu! Semua piauwsu yang dipimpin oleh Lauw-piauwsu itu memandang dengan mata ter­belalak dan muka penuh ketegangan. Tingkat kepandaian mereka, bahkan ting­kat kepandaian Lauw-piauwsu sendiri, tidaklah mencapai setinggi itu, akan tetapi mereka semua mengerti apa arti­nya pertandingan antara dua orang kakek ini. Baru sekarang Lauw-piauwsu dan semua anak buahnya sadar bahwa dua orang kakek itu benar-benar merupakan orang-orang yang memiliki tingkat kepan­daian tinggi sekali!

Diam-diam sastrawan muda itu me­mandang pertandingan itu dengan kedua alis berkerut dan pandang mata penuh kekhawatiran. Hanya dialah yang tahu, di antara para anggauta rombongan itu, di samping dua orang kakek yang saling bertanding tenaga sin-kang, bahwa pertan­dingan itu mengandung bahaya yang amat hebat antara dua orang itu, keduanya terancam bahaya besar yang dapat me­nyeret nyawa mereka ke alam ba­ka! Pertandingan itu sudah terlanjur, tenaga sin-kang mereka sudah terlanjur saling melekat dan sukar untuk ditarik kembali karena siapa yang menariknya kembali lebih dulu terancam bahaya do­rongan hawa sin-kang lawan. Melanjutkan­nya pun berbahaya karena mereka memiliki tingkat tenaga sin-kang yang berim­bang, dan kalau dilanjutkan maka ke­duanya akhirnya tentu akan kehabisan tenaga dan dapat terluka sendiri. Kalau keduanya mau menarik kembali tenaga dalam waktu yang bersamaan, agaknya mereka masih dapat tertolong, akan te­tapi agaknya kedua orang kakek ini sa­ma-sama memiliki kekerasan hati dan tidak ada yang mau mengalah!

“Ji-wi seperti dua orang anak kecil berebutan sehelai daun!” Tiba-tiba ter­dengar sastrawan itu berseru dari sam­ping dia lalu menggerakkan tangan kanannya ke depan, mengarah tengah-tengah antara kedua orang kakek itu, yaitu ke arah daun yang masih mengambang di udara.

Dua orang kakek itu berseru kaget dan daun itu hancur-lebur, rontok berhamburan melayang ke bawah. Dua orang kakek itu sudah menarik tenaga masing-masing pada saat yang sama ketika keduanya merasa terdorong oleh tenaga yang luar biasa kuatnya dan mereka terhindar dari malapetaka. Kini mereka dengan mata terbelalak memandang kepada sastrawan itu yang berdiri dengan sikap tenang saja. Bahkan Kakek Kun sendiri tidak pernah menyangka bahwa sastrawan itu ter­nyata memiliki tenaga sin-kang yang de­mikian dahsyatnya, sungguhpun dia tahu bahwa sastrawan itu bukan orang semba­rangan.

Kakek pengemis itu kini bangkit ber­diri, tubuhnya kurus sekali dan tingginya sedang saja, tangan kanan memegang tongkat bambu dan tangan kiri meme­gang guci arak. Ujung tongkat bambunya kini menyentuh mangkok retak di bawah pohon dan mangkok itu melayang naik, lalu seperti seekor burung hidup saja mangkok itu menyambar turun dan me­nyusup ke dalam karung butut di atas punggungnya.

Tiba-tiba sastrawan itu berkata, sua­ranya seperti orang bernyanyi perlahan namun pandang matanya yang tajam ditujukan kepada kakek pengemis itu. “Arak untuk menghibur hati yang duka, mangkok untuk minta derma, dan tongkat untuk memukul anjing. Kalau arak untuk mabok-mabokan, mangkok untuk memaksa orang memberi makanan dan tongkat untuk memukul orang baik-baik, itu nama­nya menyeleweng dan tidak pantas men­jadi pengemis!”

Mendengar ucapan itu, kakek penge­mis terbelalak dan memandang penuh keheranan kepada Si Sastrawan dari ke­pala sampai ke kaki. Kemudian dia mengangguk-angguk, lalu berkata, “Bu­kankah itu ajaran terkenal dari Khong­sim Kai-pang?”

“Khong-sim Kai-pang sekarang sudah tidak ada lagi.” jawab sastrawan itu. Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Penge­mis Hati Kosong) adalah sebuah perkum­pulan yang paling terkenal di jaman dahu­lu, merupakan perkumpulan yang paling terkenal di antara perkumpulan pengemis lain, dan ketuanya, yaitu keturunan orang she Yu yang amat lihai, dianggap sebagai tokoh besar dunia pengemis.

“Siapa tidak tahu akan hal itu? Akan tetapi, bukankah masih ada ketuanya yang terakhir, Sai-cu Kai-ong? Orang muda yang perkasa, apakah hubunganmu dengan Sai-cu Kai-ong?”

“Beliau pernah menjadi guruku.”

Mendengar jawaban ini, pengemis tua itu kelihatan terkejut dan cepat menjura. Jawaban itu menunjukkan bahwa pemuda ini bukan hanya menjadi murid tokoh pengemis besar itu, akan tetapi juga tentu telah mempelajari ilmu dari orang lain, maka jawabannya adalah “pernah menjadi guruku”.

“Aih, kiranya begitu! Sungguh lama sekali aku tidak berjumpa dengan Sai-cu Kai-ong yang amat kukagumi, dan kini bertemu dengan seorang muridnya yang perkasa, benar-benar merupakan pertemuan yang menggembirakan. Jangan khawatir, orang muda, aku Koai-tung Sin-kai selamanya tidak pernah mening­galkan kedudukan pengemis untuk bero­bah menjadi perampok, dan tongkat bu­tutku ini tidak pernah salah memukul orang!” Kakek kurus itu tertawa.

Sastrawan itu memandang tajam. Tentu saja dia pernah mendengar nama Koai-tung Sin-kai Bhok Sun, seorang tokoh dunia pengemis yang amat terke­nal, sebagai datuk kaum pengemis di dunia selatan di samping beberapa orang lagi tokoh-tokoh pengemis di daerah timur dan selatan. Maka dia pun menjura dengan hormat.

“Kiranya Locianpwe adalah Koai-tung Sin-kai yang terkenal. Saya percaya bah­wa Locianpwe tidak pernah salah memu­kul orang, akan tetapi tadi hampir saja terjadi hal yang tidak menyenangkan antara teman segolongan sendiri. Sastra­wan muda itu berani menggunakan sebut­an segolongan karena dia mengenal nama kakek pengemis itu sebagai seorang to­koh koh kang-ouw yang bersih, sedangkan Kakek Kun ini, biarpun belum diketahui­nya benar, dia percaya bukanlah seorang penjahat.

Koai-tung Sin-kai tertawa gembira. “Ha-ha-ha, semua gara-gara kekerasan hati, dan dibandingkan dengan kami dua orang tua yang keras hati, anak perem­puan itu memiliki kekerasan hati yang jauh lebih hebat lagi!” Dia lalu menjura kepada Kakek Kun sambil berkata, “Sahabat, maafkan kesalahfahaman tadi. Engkau sungguh hebat dan membuat aku Koai-tung Sin-kai merasa takluk. Tidak tahu siapakah julukanmu?”

Kakek Kun mengerutkan alisnya, agaknya sukar untuk menjawab. Semen­tara itu, tiba-tiba Siauw Goat berkata dengan suaranya yang merdu dan nyaring. “Kong-kong, hati-hati, di balik air tenang ada ikan buasnya, di balik kulit halus ada ulatnya!”

Semua orang tentu saja mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis cilik ini, yang hendak memperingatkan kakeknya agar tidak tertipu oleh sikap manis pe­ngemis tua itu karena dia masih saja merasa penasaran dan menganggapnya jahat. Akan tetapi kakek pengemis itu tertawa gembira mendengar ucapan itu.

“Hei, anak nakal, engkau pendendam benar, akan tetapi engkau pun memban­tuku untuk berkenalan dengan orang-orang gagah seperti murid Sai-cu Kai-ong dan kakekmu ini, tentu saja kalau dia tidak merasa terlalu tinggi untuk berkenalan dengan seorang jembel tua bangka seperti aku!”

Ucapan dan sikap kakek pengmis itu membayangkan ketinggian hatinya, sung­guh tidak sesuai sama sekali dengan ke­adaan pakaiannya seperti seorang penge­mis! Dan Kakek Kun sejenak memandang dengan sinar mata tajam dan mukanya berubah pucat, akan tetapi hal ini hanya dapat ditangkap oleh pandang mata sastrawan itu yang mengerutkan alisnya karena sastrawan ini dapat melihat bah­wa kakek ini seperti merasa terpukul dan agaknya kakek ini menderita sekali. Pa­dahal dia tahu bahwa dalam adu tenaga tadi, Kakek Kun tidak kalah kuat, maka tidak mungkin kalau terluka oleh adu tenaga tadi. Akan tetapi sekarang kakek itu menunjukkan gejala-gejala seperti orang yang menderita luka dalam yang amat hebat, sungguhpun hal itu agaknya hendak disembunyikan. Akan tetapi mengingat akan keangkuhan kakek ini, Si Sastrawan juga mengambil sikap tidak peduli.

Akhirnya terdengar kakek itu meng­gumam, “Orang-orang menyebutku Kakek Kun, dan aku tidak mencari musuh baru atau sahabat baru.” Setelah berkata demikian, dia membalikkan tubuhnya membelakangi pengemis itu dan terdengar dia batuk-batuk kecil lalu meng­gandeng tangan cucunya dan pergi dari situ.

Sejenak kakek pengemis itu meman­dang dengan mata terbelalak, mukanya lalu menjadi merah dan dia tertawa. “Ha-ha-ha, aku pun tidak ingin berdekat­an dengan rombongan orang-orang tinggi hati dan besar kepala. Huhhh!” Kakek pengemis itu berkelebat dan sekali meloncat dia pun lenyap dari situ.

Semua orang terkejut, termasuk Lauw Sek. Kepala piauwsu ini sudah banyak melakukan perjalanan dan bertemu de­ngan orang-orang kang-ouw yang aneh-aneh, maka mengertilah dia bahwa pe­ngemis tua itu benar-benar seorang yang pandai sekali dan untunglah bahwa orang pandai itu tidak bermaksud mengganggu barang-barang kawalannya. Juga dia me­rasa beruntung bahwa ada orang-orang sakti seperti Kakek Kun dan juga sastra­wan muda itu dalam rombongannya.

“Kita mengaso di sini dulu.” katanya, lebih banyak ditujukan kepada tiga orang saudagar gendut itu. “Malam nanti kita dapat melewatkan malam di dalam hutan bambu, dan besok pagi-pagi kita menu­runi lembah di depan itu dan tiba di dusun Lhagat, darimana kita akan melanjutkan pendakian ke Pegunungan Himala­ya.”

Sambil mengeluarkan napas lega tiga orang saudagar itu mencari tempat teduh di bawah pohon, melepaskan beberapa kancing baju bagian atas lalu mengebut­ngebutkan kipas yang mereka bawa untuk mengeringkan peluh yang membasahi leher dan dada. Para pemikul barang ka­walan rombongan piauwsu itu pun menu­runkan pikulan mereka dan para piauwsu membuka buntalan mengeluarkan bekal makanan dan minuman. Sastrawan itu menyendiri agak jauh, duduk melamun dengan wajah yang seperti biasanya, agak sayu dan muram. Demikian pula Kakek Kun membawa cucunya, menjauh sedikit, duduk bersila dan seperti orang bersa­madhi, sedangkan cucunya nampak makan bekal mereka roti kering sambil minum air jernih dari guci. Agaknya kakek itu mengomeli cucunya, karena bukti tidak seperti biasa, Siauw Goat juga menjadi pendiam dan agak murung, duduk saja dekat kakeknya, tidak seperti biasa lin­cah dan tak pernah mau diam. Setelah peristiwa yang baru saja terjadi, di mana sastrawan itu dan Kakek Kun memper­lihatkan ilmu mereka yang tinggi, rom­bongan piauwsu itu menjadi jerih dan sungkan, tidak berani sembarangan me­negur, apalagi bersikap sebagai sahabat-sahabat yang setingkat! Mereka bahkan mempunyai perasaan segan dan takut-takut. Dan agaknya Kakek Kun dan sas­trawan itu juga merasa lebih senang kalau didiamkan saja, lebih senang teng­gelam dalam lamunan mereka sendiri!

Setelah makan minum dan beristira­hat, Lauw-piauwsu lalu menggerakkan lagi rombongannya. “Kita tidak boleh terlambat, sebelum gelap harus dapat tiba di hutan bambu di lembah itu ka­rena sekeliling daerah ini hanya hutan bambu itulah tempat yang paling baik untuk melewatkan malam.” katanya dan semua orang tidak ada yang membantah, biarpun dari wajah mereka, tiga orang saudagar gendut itu mengeluh. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahan menderita, hal itu karena mereka mengharapkan keuntungan berlipat ganda dari batu-batu permata di saku-saku baju mereka, yang akan mereka jual di Nepal atau Bhutan.

Memang amat luar biasa. Betapa manusia dapat menahan segala kesukaran, segala derita kalau dia sedang mengejar sesuatu yang dianggapnya akan mendatangkan kesenangan! Perjalanan itu amat melelahkan, jalannya naik turun dan ka­dang-kadang melalui daerah yang berbatu dan batu-batu yang runcing itu seperti hendak menembus sepatu, terasa oleh kulit telapak kaki. Akan tetapi menjelang senja, akhirnya dengan tubuh yang amat letih bagi tiga orang saudagar itu, tiba­lah mereka di hutan bambu yang dirmak­sudkan oleh Lauw-piauwsu. Para piauwsu juga letih. Apalagi orang-orang yang memikul barang bawaan mereka itu, mereka mandi keringat ketika menurun­kan barang-barang itu, menumpuknya di dekat rumpun bambu yang tinggi melengkung.

Tanah di hutan itu penuh dengan daun bambu kering sehingga enak diduduki, seperti duduk di atas kasur saja. “Hati-hati kalau malam nanti membuat api unggun.” kata Lauw-piauwsu. “Sekitar api unggun harus dibersihkan dari daun ke­ring agar tidak menjalar dan menim­bulkan kebakaran dalam hutan, walaupun hal itu agaknya tidak mungkin karena kurasa malam ini hawanya akan dingin dan lembab. Sebaiknya membuat satu api unggun besar dan kita duduk di sekeli­lingnya, agar lebih hangat dan lebih aman, dapat saling menjaga.”

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang mengejutkan dan seorang di antara para piauwsu yang tadi mencari ranting-ranting kering agak jauh dari situ berlari mendatangi dengan muka pucat dan na­pas memburu, kelihatan ketakutan sekali, kemudian terdengar dia berteriak dengan suara gagap. “Ada.... ada mayat....!”

Semua orang lalu memburu ke arah piauwsu itu menudingkan telunjuknya yang gemetar dan setelah mereka tiba di tempat itu barulah mereka tahu mengapa piauwsu itu, seorang yang biasa dalam pertempuran dan sudah sering kali me­lihat orang terbunuh, kelihatan begitu gugup dan ketakutan. Memang amat me­ngerikan sekali apa yang mereka lihat itu. Mayat-mayat berserakan, dalam keadaan menyedihkan karena tidak ada tubuh mereka yang utuh! Tubuh itu seperti “dirobek-robek”, bahkan ada yang kaki tangannya putus atau terlepas dari ba­dan! Dan melihat betapa tempat itu masih berceceran darah yang mulai membeku dapat diduga bahwa pembunuh­an itu terjadi di hari tadi. Ada lima mayat di tempat itu.

Tentu saja para piauwsu menjadi ri­but, dan tiga orang saudagar gendut itu hampir saja pingsan, lari menjauhi dan muntah-muntah. Hanya sastrawan itu dan Kakek Kun yang tetap tenang, walaupun kakek itu melarang cucunya mendekat, kemudian membawa cucunya kembali dan menjauh dari tempat yang menyeramkan itu. Lauw-piauwsu lalu mengajak anak buahnya untuk mengganti sebuah lubang besar dan menguburkan lima mayat itu menjadi satu. Melihat ini, ada sinar mata kagum pada mata Kakek Kun yang men­corong itu dan dia mulai merasa suka kepada kepala piauwsu itu yang ternyata, dalam keadaan seperti itu, biarpun dia itu seorang yang biasa menggunakan kekerasan dan menghadapi tantangan hidup dengan golok di tangan, namun masih memiliki perikemanusiaan dan suka mengurus dan mengubur mayat orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dengan adanya lima mayat di dekat tempat itu, tentu saja suasana menjadi serem dan semua orang merasa amat tidak enak hatinya. Sastrawan muda yang sejak tadi termenung, kini bangkit berdiri dan melangkah pergi.

“Taihiap, engkau hendak ke mana­kah?” Lauw-piauwsu tidak dapat menahan hatinya dan bertanya sambil menghampiri sastrawan yang agaknya hendak pergi itu. Dia menyebut taihiap karena dia maklum bahwa sastrawan itu adalah seorang pen­dekar yang amat tinggi ilmunya. Sebelum peristiwa dengan kakek pengemis itu, dia selalu menyebutnya kongcu (tuan muda). Sastrawan muda itu berhenti melangkah dan menoleh.

“Pembunuh kejam itu tentu berada di sekitar sini, aku hendak menyelidiki.” katanya, lalu melanjutkan langkahnya. Lauw-piauwsu tidak berani bertanya lebih banyak lagi, bahkan hatinya merasa lega karena memang tadi pun dia sudah me­rasa curiga. Pembunuhan kejam itu be­lum lama terjadi dan memang kemung­kinan besar pembunuhnya, siapa pun orangnya atau apa pun mahluknya, masih bersembunyi di sekitar hutan bambu ini. Dia bergidik mengingat ini dan setelah anak buahnya membuat sebuah api ung­gun yang besar dan semua orang mulai mengaso tanpa makan malam karena tidak ada yang dapat menelan makanan setelah melihat keadaan mayat-mayat itu, Lauw-piauwsu lalu mengatur para anak buahnya untuk melakukan penjagaan secara bergilir.

Malam itu suasananya sunyi sekali, sunyi yang amat menyeramkan. Suasana ini bukan hanya diciptakan oleh keadaan di dalam hutan bambu itu, yang memang amat menyeramkan, dengan bunyi daun-daun bambu terhembus angin, bergesekan dan diseling suara berdesirnya batang-batang bambu yang saling bergosokan, seperti tangis setan dan iblis tersiksa dalam neraka dongeng, melainkan ter­utama sekali disebabkan oleh perasaan ngeri dan takut yang menyelubungi hati rombongan itu.

Lewat tengah malam, di waktu ke­adaan amat sunyinya karena sebagian dari anggauta rombongan sudah tidur, sedang­kan angin pun berhenti bertiup sehingga keadaannya amat sunyi melengang. Tiba-tiba terdengar pekik-pekik kesakitan. Tentu saja pekik yang merobek kesunyian itu mengejutkan semua orang. Bahkan mereka yang sudah tidur, tentu saja tidur dalam keadaan gelisah dan diburu ketakutan, serentak terbangun dan ke­adaan menjadi panik. Apalagi ketika mereka melihat dua di antara empat orang pemikul barang itu telah roboh mandi darah dan tak bergerak lagi, se­dangkan dua orang piauwsu sudah luka-luka namun masih mempertahankan diri melawan dua orang laki-laki tinggi besar yang amat lihai! Ketika semua orang terbangun dan memandang, ternyata dua orang piauwsu itu pun tak sanggup mem­pertahankan diri lebih lama lagi. Mereka berdua ini bersenjata golok besar, akan tetapi mereka terdesak hebat oleh dua orang tinggi besar yang tidak memegang senjata, akan tetapi kedua tangan mere­ka memakai semacam sarung tangan yang mengerikan karena sarung tangan itu dipasangi lima buah jari tangan yang melengkung dan berkuku tajam kuat ter­buat dari pada baja! Tubuh dua orang piauwsu itu sudah luka-luka dan mandi darah dan pada saat Lauw-piauwsu me­loncat, dua orang piauwsu itu roboh dengan perut terbuka karena dicengkeram dan dikoyak oleh kuku-kuku baja itu. Mereka pun menjerit dan berkelojotan!

Toat-beng Hui-to Lauw Sek marah sekali dan kedua tangannya diayun. Nam­pak sinar-sinar berkilauan menyambar ke arah dua orang tinggi besar itu.

“Tring-tring-cring....!” Dua orang itu tidak mengelak, akan tetapi menggerakkan kedua tangan mereka dan enam ba­tang hui-to yang menyambar mereka itu dapat mereka sampok runtuh semua! Pada saat itu, seorang piauwsu cepat menambah kayu pada api unggun sehing­ga keadaan menjadi terang.

“Kalian....!?” Lauw-piauwsu berteriak dengan mata terbelalak ketika dia kini mengenal wajah dua orang tinggi besar itu, yang tertimpa sinar api unggun. Semua orang pun menjadi terkejut dan terheran-heran karena dua orang tinggi besar itu bukan lain adalah dua di antara empat orang pemikul barang-barang da­lam rombongan mereka! Dua di antara para pemikul barang-barang yang mereka tadinya hanya anggap sebagai orang­orang kasar yang mengandalkan tenaga kasar untuk menjadi kuli angkut dan memperoleh hasil nafkah sekedarnya itu!

“Kalian.... anggauta Eng-jiauw-pang....?” Kembali Lauw-piauwsu berseru dengan keheranan masih mencekam hatinya.

“Ha-ha-ha!” Seorang di antara dua orang “kuli” itu tertawa. “Lauw-piauwsu, kami hanya menghendaki satu peti ini saja!” katanya sambil menepuk peti hi­tam yang sudah diikat di punggungnya. Peti kecil itu justru merupakan benda yang paling berharga di antara semua yang dikawalnya karena peti itu berisi batu-batu intan besar.

“Pek-i-piauw-kiok tidak pernah ber­musuhan dengan Eng-jiauw-pang, harap kalian suka memandang persahabatan antara dunia liok-lim (rimba hijau) kang­ouw (sungai telaga) dan tidak menggang­gu. Pada suatu hari tentu aku sendiri yang akan datang mengunjungi Eng-jiauw-pang untuk menghaturkan terima kasih.” kata Lauw Sek dengan tenang akan te­tapi dengan kemarahan yang sudah mulai naik ke kepalanya. Diam-diam ketua Pek-i-piauw-kiok ini merasa menyesal sekali mengapa sampai “kebobolan” dan tidak tahu bahwa ada perampok dari perkumpulan perampok yang paling ganas di See-cuan menyamar sebagai dua orang kuli angkut barang! Memang dua orang kuli angkut ini baru pertama kali dipekerjakan, namun dengan perantaraan dua orang kuli lain yang kini telah tewas itu, dibunuh oleh dua orang anggauta Eng-jiauw-pang. Dia segera mengenal dua orang anggauta Eng-jiauw-pang begitu melihat cakar garuda di kedua tangan itu, yang merupakan sarung tangan dan senjata andalan dari para anggauta Eng­-jiauw-pang yang tidak banyak jumlahnya akan tetapi yang rata-rata memiliki ke­pandaian tinggi itu. Selama ini dia tidak pernah mau berurusan dengan fihak Eng-jiauw-pang dan perampok-perampok ini pun bukan perampok biasa, tidak pernah merampok barang-barang yang tidak ber­harga.

“Ha-ha-ha, antara perampok dan piauwsu, mana ada kerja sama yang adil? Kalau kalian berani main sogok seribu tail, tentu karena kalian ada untung sepuluh ribu tail! Sudahlah, kami sudah bersusah payah memangguli barang-ba­rang ini, dan peti ini adalah upah kami!”

“Tidak mungkin kalian dapat melari­kannya tanpa melalui mayatku!” Lauw-piauwsu membentak dan dia sudah me­nerjang maju dengan sepasang goloknya, diikuti anak buahnya yang hanya tinggal sembilan orang saja karena yang dua orang sudah terluka parah.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat di bawah sinar api unggun yang kadang-kadang membesar kadang-kadang mengecil itu. Bayangan-bayangan yang dibuat oleh sinar api ini sungguh menam­bah seramnya keadaan karena seolah-olah banyak iblis dan setan ikut pula berkelahi, atau menari-nari kegirangan di antara mereka yang bertempur mati-matian.

Dua orang En-jiauw-pang itu memang lihai bukan main. Sepasang senjata me­reka yang merupakan sarung tangan ber­kuku baja itu amat berbahaya dan biar­pun mereka berdua dikeroyok oleh se­puluh orang piauwsu yang bersenjata tajam, namun mereka berhasil melukai pula empat orang! Namun, Lauw-piauwsu memutar sepasang goloknya secara cepat dan dibantu oleh sisa teman-temannya, dia berhasil mendesak dan mengepung ketat sehingga dua orang Eng-jiauw-pang itu kewalahan juga. Tiba-tiba seorang di antara mereka membentak keras, ter­dengar ledakan dan nampak asap kehijau­an mengepul tebal.

“Awas asap beracun!” Lauw-piauwsu berseru dan anak buahnya berlompatan mundur. Dengan sendirinya kepungan itu berantakan dan dua orang Eng-jiauw-pang itu menggunakan kesempatan ini untuk melompat jauh ke belakang. Akan tetapi, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan mereka melihat seorang kakek tua sudah berdiri di depan mereka! Kakek ini bukan lain adalah Kakek Kun yang berdiri de­ngan wajah bengis.

“Tinggalkan peti itu!” bentaknya.

“Kun-locianpwe, harap jangan men­campuri urusan Eng-jiauw-pang dan Pek­-i-piauw-kiok!” seorang di antara mereka berseru marah.

“Hemm, aku tidak peduli apa itu Eng-jiauw-pang dan apa itu Pek-i-piauw-kiok. Aku melihat kalian melakukan ke­jahatan, maka dari mana pun kalian da­tang pasti akan kutentang!”

Dua orang itu membentak keras dari mereka menubruk dari kanan kiri, Kakek Kun cepat menangkis dan balas menye­rang dengan pukulan dan tamparan yang juga dapat dielakkan dan ditangkis oleh dua orang Eng-jiauw-pang itu. Terjadilah pertempuran amat serunya dan kini keadaan menjadi terbalik. Kalau tadi dua orang Eng-jiauw-pang yang dikeroyok banyak itu mampu mendesak para pe­ngepungnya, sebaliknya kini mereka me­ngeroyok seorang kakek dan merekalah yang terdesak hebat. Setiap tamparan yang keluar dari tangan kakek itu demi­kian ampuhnya sehingga kalau mereka tidak mampu mengelak dan terpaksa menangkisnya, mereka tentu terdorong dan terhuyung-huyung! Betapapun juga, dua orang perampok itu menjadi nekat karena tempat itu sudah dikepung lagi oleh Lauw-piauwsu dan teman-temannya, siap untuk menerjang kalau mereka ber­dua hendak melarikan diri. Pertempuran dilanjutkan dengan mati-matlan, namun setelah lewat lima puluh jurus lebih, setelah berkali-kali mengadu tenaga me­reka dengan sin-kang dari Kakek Kun, akhirnya dengan tamparan-tamparannya yang mengandung tenaga sin-kang amat kuat itu Kakek Kun berhasil membuat mereka terpelanting dan mengaduh-aduh, sukar untuk bangkit kembali!

Lauw-piauwsu merampas kembali peti hitam itu dan dia sudah mengangkat golok untuk membunuh. Akan tetapi Kakek Kun berseru, “Jangan bunuh mere­ka yang sudah kalah!”

Dua orang perampok itu merangkak dan bangkit berdiri, memandang kepada Kakek Kun, tidak tahu harus marah ataukah harus berterima kasih! Mereka merasa digagalkan oleh kakek ini, akan tetapi sebaliknya, nyawa mereka pun tertolong olehnya! Mereka tadinya jerih terhadap Si Sastrawan, maka mereka sela­lu mencari kesempatan. Kini, sastrawan itu pergi menyelidiki pembunuh orang-orang dalam hutan itu, dan mereka turun tangan. Tak mereka sangka bahwa kakek yang pendiam dan tak acuh itu turun tangan mencampuri dan menggagalkan usaha mereka!

Melihat sinar mata kedua orang itu, Kakek Kun menggerakkan tangan dan menarik napas panjang, suaranya ter­dengar lirih sekali, “Pergilah.... pergi­lah....!”

Dua orang itu lalu mengangguk dan berjalan pergi menghilang ke dalam ge­lap. Lauw-piauwsu yang dapat merampas kembali peti hitam itu, cepat mengham­piri Kakek Kun dan memberi hormat, “Kun-locianpwe telah menolong kami, sungguh besar budi Locianpwe dan kami menghaturkan banyak terima kasih....”

“Kong-kong....!” Siauw Goat berseru dan Lauw-piauwsu bersama para piauwsu lain terkejut melihat kakek itu terhu­yung-huyung, kemudian dari mulut kakek itu tersembur darah segar.

“Kun-locianpwe....!” Lauw-piauwsu mendekat hendak menolong, akan tetapi kakek itu menggerakkan tangan, lalu me­nuntun cucunya mendekati api unggun di mana dia duduk bersila sebentar. Wajah­nya pucat sekali, napasnya terengah-engah, akan tetapi makin lama pernapas­annya makin baik dan normal kembali, sungguhpun wajahnya masih amat pucat.

“Kong-kong, kenapa melayani segala macam maling dan rampok? Kong-kong telah terluka parah, masih melayani se­gala jembel dan perampok busuk!” ter­dengar Siauw Goat mengomel. “Kong­kong....!” Gadis cilik itu memegangi le­ngan kakeknya. Dia lebih mengenal ka­keknya dan tahu bahwa kakeknya amat menderita. Lauw-piauwsu kembali mende­kat dan dia melihat kakek yang disang­kanya sudah sembuh itu kini merebahkan diri telentang di atas tanah bertilam daun-daun bambu, dekat api unggun. Siauw Goat berlutut didekatnya, nampak berduka dan alisnya berkerut seperti menunjukkan ketidaksenangan hatinya.

“Kun-Locianpwe, dapatkah saya mem­bantu Locianpwe?” Lauw-piauwsu men­dekati dan bertanya, sedangkan anak buahnya sibuk mengurus mereka yang terluka dalam pertandingan melawan dua orang perampok Eng-jiauw-pang tadi, sedangkan dua orang kuli angkut itu telah tewas.

Kakek itu tidak mehjawab dan Siauw Goat menunduk, memegangi tangan ka­keknya dengan sikap amat berduka. Lauw-piauwsu makin mendekat, memper­hatikan dan akhirnya dia memegang per­gelangan tangan kakek itu. Denyut nadinya lemah sekali dan tahulah dia bahwa kakek ini telah pingsan! Maka dia lalu mengeluarkan obat gosok, membuka kan­cing baju kakek itu dan perlahan-lahan menggosok dadanya dengan obat gosok panas itu.

Menjelang pagi Kakek Kun siuman dari pingsannya, menggerakkan pelupuk mata, lalu membuka, menatap sejenak kepada Siauw Goat yang masih duduk di dekatnya, kemudian menoleh dan meman­dang kepada Lauw-piauwsu yang juga tidak pernah meninggalkannya.

“Lauw-piauwsu....” katanya lemah.

“Bagaimana, Locianpwe? Apakah Lo­cianpwe membutuhkan sesuatu?”

“Dekatkan telingamu....“ katanya se­makin lemah. Ketika Lauw-piauwsu men­dekatkan telinganya pada mulut tua itu, Kakek Kun berbisik-bisik menceritakan riwayatnya secara singkat. Bisikan-bisikan itu makan waktu lama juga, dan Lauw-piauwsu mendengarkan sambil mengang­guk-angguk tanda mengerti, kadang-ka­dang matanya terbelalak seperti orang heran dan terkejut.

Setelah menceritakan semua riwayat­nya kepada piauwsu itu, tiba-tiba tangan kanan kakek itu bergerak dan tahu-tahu tengkuk piauwsu itu telah dicengkeram­nya. Lauw-piauwsu terkejut bukan main. Jari-jari tangan kakek yang sudah terluka parah dan amat berat dan gawat keadaan­nya itu ternyata amat kuat dan dia tahu bahwa kakek itu masih dapat membunuh­nya dengan sekali terkam!

“Lauw-piauwsu, bersumpahlah bahwa semua itu tidak akan kauberitahukan orang lain, bahwa engkau akan meraha­siakan keadaan kami. Bersumpahlah, ka­lau tidak terpaksa aku akan membawamu bersama untuk mengubur rahasia itu!”

Lauw Sek terkejut bukan main. Kakek ini sungguh orang luar biasa sekali, bu­kan hanya berilmu tinggi, memiliki ri­wayat yang aneh akan tetapi wataknya juga aneh, keras dan dapat bersikap ganas sekali. Cepat dia lalu membisikkan sumpahnya. “Saya, Lauw Sek, bersumpah untuk merahasiakan segala yang saya dengar dari Kun-locianpwe saat ini.”

Jari-jari tangan itu mengendur dan melepaskan tengkuk Lauw Sek yang da­pat menarik napas lega kembali.

“Dan benarkah engkau bersedia meno­long cucuku ini seperti yang kaujanjikan tadi?”

“Tentu saja, Locianpwe. Locianpwe telah menyelamatkan nyawa saya, maka sudah tentu saya akan suka membalas budi kebaikan Locianpwe dengan melaku­kan perintah apapun juga.” ,

“Hemm.... aku.... aku tidak pernah minta tolong orang.... hanya engkau yang kupercaya. Maka, kuserahkan Siauw Goat kepadamu, biarlah kau menyebut Siauw Goat saja karena namanya termasuk rahasia itu.... dan kau harus membantu­nya sampai dia bertemu dengan orang tuanya....“

“Baik, Locianpwe, akan saya kerjakan hal itu, betapa pun akan sukarnya.”

“Aku tidak minta tolong cuma-cuma.... ini.... coba tolong keluarkan henda dari saku bajuku, Goat-ji (Anak Goat)....”

Siauw Goat sejak tadi tidak bicara, hanya memandang saja ketika kakeknya berbisik-bisik dekat telinga Lauw Sek tanpa dia dapat mendengarkan jelas. Kini, dia lalu memenuhi permintaan ka­keknya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kantong kain hitam.

“Lauw-piauwsu.... inilah biayanya eng­kau mengantar cucuku.... kukira lebih dari cukup....“ Dia menyerahkan kantung kain hitam itu.

“Kun-locianpwe! Saya sama sekali tidak mengharapkan upah!”

“Terimalah.... bukalah....” Suara kakek itu semakin melemah dan pandang mata­nya membuat Lauw Sek tidak berani membantah lagi. Dibukanya kantung kain hitam itu dan ternyata isinya hanya se­butir benda sebesar telur burung merpati. Akan tetapi ketika Lauw Sek memandang benda yang kini berada di atas telapak tangannya itu, dia terbelalak.

“Ini.... ini.... mutiara berharga seka­li.... saya.... mana berani menerimanya....?” katanya gagap, terpesona oleh benda yang berkilauan biru itu.

“Kau.... mengenalnya....?”

Lauw Sek mengangguk. “Bukankah ini mutiara biru India yang hanya....”

“Sudahlah.... laksanakan permintaan­ku....” Kakek itu lalu dengan susah payah bangkit duduk bersila. Tangannya masih mampu menangkis ketika Lauw-piauwsu mencoba untuk membantunya. Akhirnya dia dapat duduk bersila, duduk dengan bentuk Bunga Teratai, yaitu duduk ber­sila dengan kedua kaki bersilang, kaki kiri telentang di atas paha kanan dan kaki kanan telentang di atas paha kiri. Ini adalah cara duduk terbaik untuk orang yang suka melakukan meditasi menghimpun kekuatan dan kini kakek itu duduk seperti ini sambil memejamkan kedua mata atau lebih tepat menunduk­kan pandang mata dengan pelupuk atas menutup, kedua tangannya terletak di atas kedua lutut, telentang.

Melihat ini, Lauw-piauwsu lalu me­ngundurkan diri untuk membantu teman-temannya yang masih sibuk mengurus kawan-kawan yang terluka. Akan tetapi, ketika matahari mulai mengirim sinarnya yang merah keemasan, membuat benang-­benang sutera menerobos celah antara daun-daun bambu, dia mendengar teriak­an Siauw Goat, “Kong-kong....!”

Dia cepat menghampiri dan melihat anak itu berlutut dan mendekap kedua tangan kakek itu yang masih duduk ber­sila seperti tadi akan tetapi kedua ta­ngannya dirangkap di atas pergelangan kaki. Anak perempuan itu tidak mena­ngis, hanya berlutut dan membenamkan mukanya di atas kaki kakeknya. Lauw Sek memandang wajah kakek itu, dia mengerutkan alisnya dan meraba perge­langan tangan kanan kakek itu untuk merasakan denyut nadinya.

Anak perempuan itu tidak menangis, hanya berlutut dan membenamkan mukanya di atas kaki kakeknya.

“Dia sudah meninggal dunia!”

Lauw Sek terkejut dan menoleh. Kira­nya yang bicara itu adalah Si Sastrawan muda yang entah dari mana baru saja muncul dan begitu melihat wajah kakek itu telah berhenti bernapas. Dan memang sesungguhnyalah, Lauw Sek tidak dapat merasakan ada denyut nadi, maka dia lalu mengelus kepala Siauw Goat.

“Siauw Goat, kakekmu telah mening­gal dunia dalam keadaan tenang, jangan kau berduka lagi, Nak.” Suara piauwsu ini agak gemetar karena dia merasa terharu sekali. Dia tahu bahwa kakek ini agaknya mengidap penyakit berat, dan ketika malam tadi menolongnya meroboh­kan dua orang perampok, agaknya kakek ini terlalu banyak mengerahkan tenaga sehingga luka di dalam tubuhnya makin parah dan mengakibatkan tewasnya.

Anak perempuan itu mengangkat mukanya. Mukanya pucat, sepasang mata­nya bersinar-sinar, akan tetapi tidak nampak dia menangis sungguhpun ada bekas air mata membasahi kedua mata dan pipinya. Dia sama sekali tidak terisak, bahkan kini dia mengepal tinju kanannya yang kecil sambil berkata, “Aku bersumpah untuk membalas kemati­an kakekku kepada Si Jembel tua bangka Koai-tung Sin-kai dan perkumpulan pen­jahat Eng-jiauw-pang!”

“Hemm, gadis cilik engkau lancang sekali! Koai-tung Sin-kai bukan....“

“Kau peduli apa?” Siauw Goat melon­cat berdiri, bertolak pinggang mengha­dapi sastrawan yang tadi mencelanya. “Semalam Kong-kong yang sedang men­derita luka parah telah terpaksa mem­bantu para piauwsu menghadapi penjahat-penjahat perampok Eng-jiauw-pang dan engkau bersembunyi di mana? Sekarang setelah kakekku meninggal, engkau mun­cul dan pura-pura hendak menasehatiku. Bagus, ya?”

Sastrawan itu terbelalak, tersenyum urung dan mukanya berobah merah. Wah, anak ini luar biasa, pikirnya. Ketika dia mengangkat muka, dia melihat pandang mata semua orang ditujukan kepadanya, seolah-olah mereka itu mendukung tegur­an anak perempuan itu. “Aku menemukan jejak manusia salju dan mengikutinya semalam suntuk, akan tetapi tak berhasil menemukannya.” dia menggumam.

“Yeti....?” Lauw Sek berteriak de­ngan muka pucat dan semua piauwsu juga menjadi pucat mukanya, bahkan ada yang menggigil ketakutan dan meman­dang ke kanan kiri. “Di.... di mana.... dia....?” Lauw-piauwsu bukanlah seorang yang lemah, akan tetapi sebagai seorang piauwsu yang sering kali melalui daerah ini, tentu saja dia sudah mendengar ba­nyak tentang manusia salju atau Yeti, betapa mahluk itu kalau sudah mengamuk amat berbahaya, tidak ada manusia di dunia ini yang mampu menandinginya. Maka tidak mengherankan kalau dia men­jadi pucat ketakutan.

Sastrawan itu menggerakkan pundak­nya. “Aku hanya menemukan jejak kaki­nya saja, dan jelas bahwa orang-orang yang terbunuh itu adalah korban-korban­nya.”

“Tapi.... biasanya Yeti tidak pernah mengganggu manusia. Kecuali.... kalau dia lebih dulu diganggu. Tentu ada hal hebat dan aneh terjadi maka Yeti dapat me­ngamuk seperti itu, membunuh banyak orang dan melihat betapa para korban itu dikoyak-koyak jelaslah bahwa Yeti itu benar-benar sedang marah. Kita harus cepat melanjutkan perjalanan. Mari kita cepat mengubur jenazah Kakek Kun, lalu segera melanjutkan perjalanan ke dusun Lhagat!”

Semua orang lalu sibuk bekerja menggali sebuah lubang kuburan. Akan tetapi ketika mereka hendak mengubur kakek itu, ternyata tubuh kakek itu yang masih duduk bersila telah kaku dan tidak dapat ditekuk kaki tangannya agar dapat rebah telentang.

“Biarkan saja!” tiba-tiba Siauw Goat berkata lantang. “Kong-kong lebih suka tidur bersila, jangan ganggu jenazahnya!” Anak itu tidak tega melihat betapa para piauwsu berusaha untuk menarik-narik kaki tangan kong-kongnya.

Sastrawan muda itu hanya tersenyum saja dan mengangguk-angguk. Maka beramai-ramai para piauwsu lalu meng­gotong tubuh yang masih bersila itu, meletakkannya ke dalam lubang yang cukup dalam. Setelah Siauw Goat mem­beri hormat untuk yang terakhir kalinya dengan hio yang menjadi bekal para piauwsu, kemudian semua piauwsu juga memberi hormat, bahkan juga tiga orang saudagar gendut, kecuali Si Sastrawan, maka jenazah dalam lubang itu lalu di­timbuni tanah. Tidak terdengar tangis, akan tetapi sastrawan itu melihat betapa air matanya bercucuran dari kedua mata Siauw Goat yang berdiri tegak. Anak ini menangis, namun kekerasan hatinya membuat tidak ada isak keluar dari mu­lutnya.

“Luar biasa.... anak luar biasa....” Sastrawan muda itu menggumam kepada diri sendiri.

Setelah selesai penguburan itu, Siauw Goat lalu minta kepada Lauw Sek agar makam itu diberi tanda. Piauwsu itu ke­lihatan bingung. “Ah, tanda apa yang dapat dipakai di tempat ini? Kecuali batu-batu kecil ditumpuk.” Dia lalu me­merintahkan orang-orangnya untuk me­ngumpulkan batu-batu. Akan tetapi tiba­-tiba tampak sastrawan muda itu datang dan kedua tangannya yang diangkat ke atas kepala itu membawa sebongkah batu sebesar kerbau bunting! Semua orang memandang dengan kagum dan terkejut, akan tetapi dengan seenaknya sastrawan itu menurunkan batu perlahan-lahan ke depan makam baru. Tanpa berkata sesua­tu dia lalu mundur lagi. Gadis cilik itu pun hanya memandang sejenak kepada Si Sastrawan, tanpa mengucapkan terima kasihnya karena dia masih mendongkol kepada sastrawan itu. Kalau semalam sastrawan itu berada di situ dan kakek­nya tidak perlu harus menandingi para perampok, kakeknya belum tentu akan mati!

Rombongan itu lalu melanjutkan per­jalanan, menuruni lembah, dari hutan bambu itu terus menurun, menuju ke dusun Lhagat. Rombongan melakukan perjalanan dengan agak tergesa-gesa dan pada wajah para piauwsu itu terbayang ketakutan setelah mereka mendengar cerita Si Sastrawan bahwa Yeti berke­liaran di daerah itu dan membunuh orang secara amat mengerikan. Mereka tidak banyak bicara selama dalam perjalanan ini, bukan hanya karena takut dan ngeri kepada Yeti, akan tetapi juga karena mereka masih menghormati kematian Kakek Kun dan berada dalam keadaan berkabung. Juga Siauw Goat yang biasa­nya lincah itu kini nampak pendiam, akan tetapi sepasang matanya kadang-kadang mengeluarkan sinar penuh api ke­marahan.

Siauw Goat, Kong-kongmu meninggal­kan pesan agar mulai saat ini aku menja­di walimu, mengamatimu, mengurusmu dan mengantarkan engkau untuk mencari orang tuamu.” di dalam perjalanan itu Lauw Sek mendekatinya dan berkata lirih. Gadis cilik itu mengangguk tanpa menjawab.

“Oleh karena itu, mulai sekarang, ku­harap engkau suka menuruti segala pe­tunjukku, karena aku merasa bertanggung jawab atas dirimu. Engkau tentu menger­ti bahwa aku harus memenuhi segala janjiku kepada Kong-kong, Siauw Goat.” Gadis cilik itu mengangkat kepala dan memandang kepada wajah piauwsu itu dengan sinar mata penuh selidik, sinar mata yang amat tajam. Agaknya dia me­rasa puas dengan hasil penyelidikan sinar matanya, karena dia kembali mengangguk dan bibirnya bergerak perlahan, terdengar dia menjawab lirih. “Baiklah, Lauw-pek.”

Biarpun dia berjalan agak menyendiri dan agak jauh dari Siauw Goat, namun pendengaran yang tajam dari Si Sastrawan dapat menangkap percakapan lirih itu dari dia hanya tersenyum sendiri. Perjalanan dilanjutkan dengan secepat mungkin dan kini para piauwsu terpaksa membagi-bagi barang-barang bawaan yang dikawal karena sudah tidak ada lagi kuli-kuli angkut yang membantu mereka.

Lhagat adalah sebuah dusun yang besar, mirip sebuah kota yang dikitari gunung-gunung besar. Lhagat merupakan sebuah tempat di perbatasan yang selalu ramai karena tempat ini merupa­kan tempat pemberhentian dari mereka yang melakukan perjalanan dari Tibet ke Nepal atau India, atau sebaliknya. Juga merupakan tempat di mana orang-orang memperdagangkan barang-barang dagang­an mereka dari negara masing-masing, pendeknya merupakan pasar bagi para pedagang dari berbagai negeri yang bertetangga.

Tempat perbatasan Lhagat ini dike­palai oleh seorang Kepala Daerah. Menu­rut pengakuannya, secara resmi. Lhagat termasuk wilayah atau daerah dari Negara Tibet. Akan tetapi, karena tempat ini amat jauh dari kota-kota lain, juga amat terpencil dan berada di antara gunung-gunung yang amat luas dan liar, sedang­kan tetangganya hanya dusun-dusun kecil terpencil di sana-sini, maka Kepala Dae­rah itu memerintah tempat ini seperti seorang raja kecil saja! Semua hal ter­masuk keamanan, pajak, dan peraturan-peratuan menjadi wewenangnya, bahkan Kepala Daerah ini mempunyai pasukan sendiri. Akan tetapi dia terkenal sebagai seorang pembesar atau kepala daerah yang bijaksana, karena Kepala Daerah ini maklum bahwa tempatnya merupakan sumber penghasilan yang besar dengan adanya pusat perdagangan jual beli anta­ra pedagang-pedagang berbagai negeri itu. Dari mereka ini dia memperoleh bantuan berupa pungutan derma semacam pajak yang diberikan secara suka rela oleh para pedagang yang tentu saja men­dapatkan banyak keuntungan dari perda­gangan mereka.

Pada hari-hari biasa yang lalu, Lhagat merupakan tempat yang tenang dan ten­teram, keramaian yang ada hanya keramaian dagang yang tidak segan-segan membuang sebagian dari pada keuntungan mereka untuk bersenang-senang. Akan tetapi pada waktu itu, ada semacam ketegangan yang hebat mencekam hati penduduk Lhagat, membuat semua wajah nampak muram dan ketakutan. Ada dua peristiwa terjadi dan inilah yang mem­buat para penghuni kehilangan kegembi­raannya. Yang pertama adalah orang­orang asing yang membanjiri Lhagat. Orang-orang asing dengan pakaian dan sikap aneh-aneh dan biarpun sebagian besar mereka itu mengaku pelancong dan pedagang, namun sikap mereka amat mencurigakan karena yang mengaku pelancong lebih mirip jago-jago silat se­dangkan yang mengaku pedagang tidak membawa barang dagangan melainkan membawa-bawa segala macam sen­jata tajam dan aneh-aneh! Jelaslah bah­wa mereka itu adalah petualang-petua­lang, orang-orang kang-ouw dan berkum­pulnya mereka pada suatu saat di tempat itu tentu telah terjadi hal-hal yang amat hebat. Hal ini saja belum meninggalkan kecemasan bagi para penduduk Lhagat. Yang membuat mereka ketakutan adalah peristiwa ke dua, yaitu banyaknya ma­yat-mayat ditemukan di sekitar Lhagat, di lembah-lembah, di gunung-gunung, di rawa-rawa dan di hutan-hutan. Hampir setiap hari datang laporan kepada Kepala Daerah tentang adanya mayat-mayat yang ditemukan oleh para pelancong itu atau oleh para pemburu, pedagang dan juga para penggembala setempat. Dan selalu mayat-mayat itu ditemukan dalam keadaan mengerikan, tubuh mereka koyak-koyak. Biarpun peristiwa ini dihubungkan dengan dongeng tentang manusia salju yang mengamuk, namun para peng­huni Lhagat tetap saja menyalahkan para pendatang asing itu, dan memandang mereka dengan sinar mata tidak senang..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.161.3.96
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia